Perpisahan dan Harapan Bersua Kembali
Perpisahan dan Harapan Bersua Kembali
Oleh: Siti Rodi’ah
Rangkaian acara KOPDAR telah saya lalui. Mulai dari talkshow sebagai pembuka acara KOPDAR. Acara tersebut berlangsung dengan lancar. Tidak ada kendala yang menghadang. Walaupun saya dan kawan-kawan SPK Tulungagung sempat datang terlambat dalam mengikuti talkshow. Tetapi, itu tidak menjadi penghambat jalannya rangkaian talkshow. Acara talkshow pun dimulai tanpa menunggu peserta yang belum hadir di lokasi. Kami dari rombongan Tulungagung tidak terlalu banyak ketinggalan akan acara talkshow. Di ruang talkshow ini kami mulai mengenal para pengurus SPK pusat. Bu Hitta sebagai ketua SPK pusat, tentu menjadi pusat perhatian kala itu. Pasalnya, ada prosesi penandatanganan hubungan kerjasama antara FIP UNESA dengan SPK. Sehingga, bagi anggota SPK yang belum mengenal beliau, dari forum ini bisa mengenal Bu Hitta sebagai ketua SPK pusat.
Selain prosesi penandatanganan hubungan kerjasama, paparan materi pun tak luput dari perhatian kami sebagai peserta KOPDAR. Banyak ilmu yang saya dapat. Mulai motivasi diri untuk spirit menulis, trik menulis buku, hingga petuah-petuah menjadi seorang penulis. Kala itu, banyak asupan gizi yang saya dapatkan. Ini bisa mengobati mental literasi saya yang mulai kendor. Selain itu, menjadi bahan evaluasi saya kedepannya. Ya, melakukan resolusi ulang. Agar, apa yang saya serap dari talkshow ini tidak seperti angin yang berlalu saja. Butuh kerja keras dan komitmen tinggi untuk memulainya. Tentu, catatan demi catatan adalah aktivitas wajib bagi saya dan kawan-kawan dalam mendokumentasikan forum penuh gizi ini. Hal ini bisa menjadi bahan tulisan hingga berbuah karya buku solo.
Acara talkshow ditutup dengan tampilan Zelda dari perwakilan mahasiswi disabilitas. Suara yang memukau, seakan mengajak hati ini untuk ikut berdendang. Tak hanya saya yang terpukau dengan suara emasnya, semua peserta talkshow pun terhipnotis juga. Tanpa disadari bibir ini juga mengikuti lantunan lagu yang dinyanyikannya. Tak lupa dokumentasi adalah menu wajib bagi kami sebagai peserta talkshow. Dibalik kekurangan seorang Zelda, ada sisi kelebihan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Ya, suaranya yang empuk. Selain itu, dia juga adalah seorang penulis. Tak kalah dengan orang normal lainnya. Dia sudah menghasilkan 8 buah buku. Hati ini terkagum saja olehnya. Menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk berkarya.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan ishoma. Melalui ishoma ini para peserta KOPDAR saling memperkenalkan diri. Berbincang-bincang sebentar di mushola dengan Mbak Zidna dan pengurus SPK pusat. Saya lupa namanya. Yang saya ingat adalah beliau tinggal di Lamongan. Beliau melakukan perjalanan seorang diri. Ya, kala itu beliau sempat menjadi imam kami saat sholat dzuhur. Dan bertanya kepada kami tentang asal daerah. Di ruang kami berdiskusi, sudah tersaji kudapan. Sembari menunggu kawan-kawan yang istirahat di luar maupun sholat, kami pun saling bertegur sapa satu dengan lainnya. Rupanya para pengurus duduk di kursi yang tersedia. Saya yang masih baru, ada rasa malu untuk menyapa. Saya hanya menjadi pendengar saja akan obrolan para pengurus dan peserta KOPDAR lainnya.
Akhirnya acara inti pun dimulai. Bagi anggota SPK yang tidak bisa hadir dapat menyaksikan secara virtual. Sebut saja Bu Eti dan Mas Roni yang merupakan anggota SPK Tulungagung. Bu Hitta membuka acara inti tersebut. Diskusi ini cukup asyik. Tidak menegangkan seperti sidang skripsi. Lokasinya pun sangat nyaman untuk saling bertukar pendapat. Bahkan teknologi pun juga sangat memadai. Para peserta virtual bisa melihat jalannya diskusi KOPDAR dengan sistem pengambilan gambar yang baik. Jadi, mereka bisa melihat siapa saja yang mengikuti KOPDAR secara offline kala itu. Wajah-wajah anggota SPK Tulungagung terpampang jelas di layar. Ya, kami berada di lajur kanan. Sedangkan ketua SPK beserta jajarannya berada di lajur tengah. Dan pengurus maupun anggota SPK pusat berada di lajur kiri. Mode tempat duduk kami melingkar, selayaknya waktu kuliah.
Pukul 17.00 forum diskusi ini selesai. Lagi-lagi tanpa kendala yang menghadang. Artinya Allah meridhoi forum diskusi ini yang syarat akan semangat juang untuk mengembangkan SPK kedepannya. Saya pun bergegas untuk melakukan sholat asar. Para panitia sungguh santun dalam melayani tamu. Sebagian besar dari mahasiswa UNESA. Mereka mempersilakan kami untuk sholat ke mushola. Bahkan, mereka juga menunggu ruangan diskusi hingga pesertanya sudah tidak lagi di dalam. Senyum sapa merupakan bagian dari adab. Setiap ada yang keluar masuk ruangan, mereka menyapa dengan ramah dan sopan.
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kami pun harus kembali ke rombongan. Bu Hitta yang sabar menenangkan anaknya yang rewel, bisa melayani para tamu tanpa ada rasa beban. Saya kagum dengan beliau akan management emosional. Tak lupa seluruh peserta KOPDAR pun berfoto di depan gedung fakultas pendidikan. Berasa kompak saja. Salah satu pengurus SPK pusat menawarkan diri untuk memfotokan perwakilan SPK Tulungagung. Tentu, tawaran ini disambut bahagia oleh kami. Setelah itu, masing-masing peserta KOPDAR berjabat tangan. Dan mengucap salam perpisahan. Masing-masing pun juga saling memotivasi agar bisa mengikuti KOPDAR di lain waktu.
Ternyata, Elf kami pun sudah berada di lokasi. Kami pun kembali merangkul peserta KOPDAR lainnya. Ini momentum yang mengharukan. Ingin lagi rasanya berkumpul kembali. Saling berdiskusi dan memotivasi untuk semangat menulis. Ya, pertemuan selalu beriringan dengan perpisahan. Semoga 6 bulan lagi bisa bersua kembali. Tentu, rasa kangen ini terbawa hingga 6 bulan lamanya. Karena KOPDAR diselenggarakan setiap 6 bulan sekali. Semoga saya bisa mengikuti KOPDAR lagi. Aamiin….
Komentar
Posting Komentar