Peran Literasi Terhadap Pembelajaran Matematika
Peran Literasi Terhadap Pembelajaran Matematika
Oleh: Siti Rodi’ah
Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis seseorang. Terlebih menjadi seorang peserta didik, tentu aktivitas membaca dan menulis adalah hal yang wajib dilakukan. Setiap hari, peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran, kecuali hari libur yaitu Minggu atau tanggl merah. Kegiatan pembelajaran tersebut tak jauh dari literasi. Yaitu membaca materi di buku penunjang maupun pemaparan guru. Selain itu, menulis tugas yang diberikan oleh guru. Sehingga, literasi sangat dekat dengan pelajar.
Tetapi, dengan kecanggihan teknologi yang kian menunjukkan inovasi baru. Seolah peserta didik dinina bobokkan dengan kecanggihan teknologi tersebut. Sebut saja Chat GPT yang saat ini menjadi kekhawatiran para pendidik. Pasalnya, melalui tekonologi tersebut, peserta didik mampu memperoleh jawaban dari berbagai persoalan yang dikerjakan. Bahkan tidak hanya dalam hitungan menit, dalam hitungan detik pun mereka sudah mendapatkan jawabannya. Selain itu, informasi yang ditampilkan sudah hasil dari analisis Chat GPT tersendiri. Tidak seperti di google yang masih berupa bahan mentah. Chat GPT menampilkan jawaban berupa bahan matang yang sudah siap pakai. Ini menjadi gaya belajar yang mudah dan instan. Peserta didik hanya mengganti jawaban yang sudah ditampilkan oleh Chat GPT.
Berkaitan dengan kecanggihan teknologi, perlu diimbangi dengan kecakapan literasi yang baik oleh peserta didik. Dimana dimenasi literasi menurut Maman (2020) terdiri dari enam macam, yaitu literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi financial, dan literasi budaya dan kewarganaan. Masing-masing dimensi tersebut berkaitan erat dengan aktivitas membaca untuk memperoleh pengetahuan dalam menganalisis serta memberikan kesimpulan dari suatu objek yang dipelajari. Selain itu, untuk menginterpretasikan apa yang diketahui, perlu dituliskan untuk mendukung proses pengungkapan gagasan tersebut. Sehingga, melalui kecakapan lieterasi, siswa mampu menyaring informasi yang diperoleh dari media teknologi. Bagaimanapun kecanggihan teknologi, tentu ada sisi kelemahannya. Yaitu analisis dan mencipta. Melalui kecakapan literasi, peserta didik mampu meningkatkan prestasinya yang didukung dengan teknologi.
Salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada semua jenjang sekolah adalah matematika. Karena hampir semua aspek kehidupan sehari-hari menggunakan konsep matematika. Selain itu, pengembangan IPTEK juga didukung dengan penguasaan matematika. Maka, tak heran jika matematika diajarkan disemua jenjang pendidikan. Menurut Sutarto (2018) menyatakan bahwa pengajaran matematika di sekolah bertujuan mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan dunia yang dinamis dengan menekankan pada penalaran logis, rasional, kritis serta mampu memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi, matematika menjadi momok bagi pelajar. Pasalnya, matematika adalah mata pelajaran yang sulit dipahami oleh peserta didik. Banyak rumus serta hitungan yang rumit, menjadi aspek matematika jarang diminati oleh peserta didik. Kalaupun peserta didik hafal berbagai rumus pada materi tertentu, tak sedikit mereka kesulitan dalam mengaplikasikan ke soal. Apalagi soal cerita yang membutuhkan berbagai rumus untuk menyelesaikannya. Tentu, ini perlu diimbangi oleh kecakapan literasi yang baik. Terlebih soal matematika yang berbasis IKM, peserta didik harus mampu menganalisis serta menghubungkan konsep yang sudah dikuasainya. Untuk menguasai konsep dan menganalisi soal, tentu peran literasi dari peserta didik sangat fundamental.
Menurut Sutarto (2018) bahwa aksara, bilangan dan berbagai simbol didalam matematika adalah hal yang tak terpisahkan. Karena soal matematika tidak hanya fokus pada penyelesaian dalam bentuk persamaan dan symbol-simbol. Tetapi, dapat diselesaikan dengan penalaran dan aritmetika sederhana. Untuk meningkatkan kemampuan penalaran, perlu didukung dengan kemampuan literasi yang baik pula, yaitu literasi numerasi. Dimana literasi numerasi menurut Maman (2020) merupakan kecakapan untuk memperoleh, menginterpretasikan, megggunakan dan mengkomunikasikan bebagai angka dan symbol matematika untuk menyelesaikan permsalahan dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagi bentuk (tabel, grafik, bagan, dan lain-lain) untuk mengambil keputusan.
Saya sebagai pengajar di suatu bimbingan belajar, memiliki beberapa pengalaman. Khususnya pengalaman mengajar matematika. Saya menjumpai peserta didik yang malas untuk membaca. Yaitu membaca definisi dari sub materi yang dipelajari. Misalnya konsep keliling bangun datar. Yaitu jumlah seluruh sisi bangun datar. Peserta didik yang bermodal hafalan rumus, saat menjumpai model bangun datar yang berbeda dari yang dicontohkan, mereka bingung menyelesaikan. Padahal dari definisi sudah jelas bahwa untuk mencari keliling bangun datar, maka dijumlahkan semua sisi pada bangun datar. Tidak terhenti pada pemahaman konsep saja, peserta didik juga tidak cermat saat membaca soal cerita. Apalagi soal berbasis IKM yaitu numerasi literasi. Siswa sudah bingung akan banyaknya bacaan dan data yang tersaji. Hal ini menyebabkan siswa tidak memahami apa yang ditanyakan.
Dalam konteks kepenulisan pun, banyak peserta didik yang bingung menginterpretasikan gagasan matematisnya. Baik membuat model matematis dalam bentuk persamaan, cara menuliskan penyelesaian sesuai teori, serta memberikan kesimpulan dari penyelesainnya. Artinya, peserta didik perlu dibimbing menulis gagasan matematis oleh gurunya. Agar, tidak timbul kekeliruan dalam menuliskan. Mengingat, matematika sangat ketat akan aturan. Sehingga, agar peserta didik tidak terjerumus pada hasil yang salah, perlu dimbing dalam proses belajarnya. Namun, ini juga didukung oleh kemauan peserta didik dalam belajar. Khusunya literasi numerasinya. Kuncinya adalah sabar dalam proses belajar. Karena banyak peserta didik yang tidak sabar dan pada akhirnya memilih cara pintas. Yaitu cara yang dianggap simpel tetapi tidak sesuai dengan konsep yang ada. Walaupun hasilnya benar, tetapi jika dibaca oleh orang lain, akan timbul miskonsepsi.
Berdasarkan uraian diatas, peran literasi pada pembelajaran matematika sangat fundamental. Guru perlu memfasilitasi pelajar untuk mengembangkan kecakapan literasi siswa, salah satunya adalah media dan sumber belajar siswa. Menurut Yani (2014) bahwa setiap mata pelajaran memiliki kebutuhan media dan sumber belajar pada setiap materi pokok untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Agar peserta didik mampu memahami konsep, mengaplikasikan konsep ke dalam soal serta menginterpretasikan gagasan matematisnya dalam bentuk tulisan. Selain itu, bimbingan juga hal yang wajib dilakukan. Tidak semua peserta didik bisa memahami konsep matematika dengan bantuan media pembelajaran. Dan banyak peserta didik yang kesulitan menginterpretasikan gagasan matematis dengan benar. Sehingga, bimbingan juga hal yang penting dilakukan.
Dengan kecanggihan teknologi, peluang peserta didik untuk membantu kesulitannya sangat terbuka lebar. Sangat disayangkan jika mereka tergantung dengan teknologi. Keterampilan berhitung dan analisinya akan terhambat. Hal ini berdampak pada kehidupannya dimasa depan. Untuk itu, kecakapan literasi adalah solusinya yang diimbangi dengan fasilitas pembelajaran yang baik serta bimbingan guru. Agar peserta didik tidak mudah menyerah untuk belajar dan menyelesaikan soal matematika. Walaupun, adakalanya mereka boleh menggunakan teknologi untuk membantunya belajar. Tetapi, lebih baik berusaha semaksimal mungkin dulu untuk menyelesaikan soal yang dikerjakan. Jika sudah tidak mampu menyelesaikannya, tidak apa-apa menggunakan teknologi. Mungkin dari penyelesaian yang ditampilkan, dapat menambah khasanah pengetahuannya.
Daftar Referensi
Hadi, Sutarto. 2017. Pendidikan Matematika Realistik: Teori, Pengembangan, dan Implementasinya. Depok: PT. Rajagrafindo Persada
Sulaeman, Maman. 2020. Aplikasi Project-Based Learning. Depok: Bioma Publishing
Yani, Ahmad. 2014. Mindest Kurikulum 2013. Bandung: Alfabeta
Komentar
Posting Komentar