Neng Khilma Anis: Kesan Kedekatan Seorang Penulis dengan Sang Khaliq
Neng Khilma Anis: Kesan Kedekatan Seorang Penulis dengan Sang Khaliq
Oleh: Siti Rodiah
Saya bersyukur kepada Sang Khaliq telah meridhoiku untuk mengikuti KOPDAR di UNESA. Ada berbagai hal yang masih baru bagi saya. Terutama berkaitan dengan dunia literasi. Memang KOPDAR kali ini berbeda dengan sebelumnya. Ya, setiap agenda KOPDAR tentu memiliki tema yang berbeda pula. Jika sama, maka saya sebagai peserta KOPDAR pun akan stagnan dalam ilmu lama. Hal baru tersebut memberikan arahan terhadap saya dalam menyelami dunia literasi ini. Dimana, literasi yang saya kenal sebelumnya adalah dunia tulis menulis, membaca dan menyusun suatu kata yang saling berpadu padan, hingga motivasi menulis. Tetapi, kali ini berbeda. Bahwa penulis adalah sosok yang religius. Bukan hanya sekedar mengandalkan kemampuan menulis maupun pengetahuan yang telah dikuasainya. Tentu, ini membuka tabir saya tentang penulis yang identik dengan kecerdasan maupun kemahiran dalam menyusun kalimat, melainkan dia adalah sosok religious yang dekat dengan Tuhannya.
Neng Khilma Anis memberikan warna bagi dunia literasi. Beliau menyampaikan bahwa menulis hendaknya dalam keadaan suci dan diiringi dengan doa kepada Sang Khaliq. Artinya sebelum menulis dianjurkan untuk wudhu dan memohon kepada Allah agar diberikan kelancaran dalam menulis. Selain itu, diharapkan apa yang ditulis akan mendatangkan keberkahan terhadap orang lain. Hal ini mengantarkan saya bahwa seorang penulis adalah sosok makhluk yang dekat dengan Sang Khaliq. Tentu, apa yang diucapkan oleh Neng Khilma telah beliau terapkan selama menghasilkan karya. Beliau pun mengatakan bahwa setiap akan menulis selalu disempatkan untuk berdoa agar karyanya berkah terhadap orang lain. Saya kagum dengan sikap spiritual beliau. Ya, ini memberikan warna bagi dunia literasi yang identik pada kecerdasan personal. Tetapi, melalui nasehat beliau telah merubah paradigma saya sebagi sosok penulis pemula.
Saya mencoba untuk merenungkan pesan dari Neng Khilma kepada para peserta talkshow. Saya sendiri sebagai peserta talkshow yang mencatat pesan dari beliau. Catatan kecil ini saya buka lagi sembari merenung akan petuah Neng Khilma yang masih bersinggah di memori jangka panjang. Namun, saya pun perlu membuka buku hijau yang ada di meja belajar. Tafsir Al-Mishbah adalah teman yang pas untuk topik ini. Ya, korelasi doa dengan aktivitas menulis. Saya mencoba membuka buku volume 1. Walaupun, saya bukan ahli dibidang tafsir, tetapi saya mencoba untuk membaca dan mencatat hal-hal yang penting. Kemudian mencoba mengkorelasikan dengan petuah dari Neng Khilma kala itu.
Sedikit yang dapat saya petik dari uraian Bapak Quraish Shihab bahwa segala sesuatu tidak akan terwujud karena izin Allah. Bahkan daun kering yang jatuh dari rantingnya pun juga atas izin Allah. Maka, segala pekerjaan yang dilakukan oleh manusia harus didahului “bismillah”. Dimana “bismillah” adalah doa. Sedangkan doa dapat memberikan dampak yang sangat besar dalam mewujudkan harapan seseorang. Karena seseorang tersebut telah menjadikan Allah sebagai pangkalan tempat bertolak. Dan Allah Maha Kuasa atas segala yang ada di alam raya ini. Allah sangat dekat dengan manusia. Sehingga, doa yang telah dipanjatkan mendatangkan rasa optimisme bagi si Pemohon. Tetapi doa perlu diiringi dengan kebersihan hati dari sifat keangkuhan, agar memperoleh hidayah-Nya. Tentu aktivitas menulis harus diiringi doa dan dalam keadaan berwudhu atau suci. Agar mendapatkan hidayah-Nya berupa hikmah maupun ilmu baru.
Penulis adalah sosok personal yang kaya akan ilmu pengetahuan dan hikmah, tetapi memiliki keterbatasan akan ingatan. Kelebihan dan keterbatasan ini haruslah senantiasa dibarengi dengan doa kepada Sang Khaliq. Agar apa yang ditulis mendatangkan berkah. Minimal dengan seorang yang terhubung dengan Sang Khaliq akan dijauhkan dari aktivitas menulis yang merugikan orang lain. Misalnya, menulis yang mengandung SARA atau menulis yang tidak sesuai dengan fakta. Tentu, penulis akan dibimbing oleh Sang Khaliq dalam proses menyelesaikan tulisan. Atau penulis lupa dengan konsep yang diingat. Melalui wudhu dan doa, dimungkinkan Allah menurunkan ilmu kepada seseorang berupa ilham atau intuisi. Bagi saya, pesan Neng Khilma perlu diterapkan oleh para penulis. Karena penulis sendiri sangat jauh dari kesempurnaan sebagai personal yang cerdas. Yang Maha Sempurna sejatinya hanyalah Allah Sang Pemilik Alam Semesta beserta isinya.
Berkaitan dengan pesan dari Neng Khilma, tentu beliau sudah menerapkan selama berkarya. Seperti Novel “Hati Suhita”. Setiap akan menulis novel tersebut, beliau senantiasa berdoa dan dalam keadaan wudhu. Hingga, novel tersebut tuntas. Saya yang menikmati filmnya, merasa tergugah. Bahwa perjodohan tidak selalu negatif. Dimana banyak orang yang berpikir negatif akan konsep perjodohan tersebut. Karena pernikahan tidak diawali dengan rasa kenal dan saling cinta. Padahal, pernikahan merupakan penyatuan dua insan yang berbeda. Mulai dari berbeda sudut pandang, hobi, kebiasaan, karakter dan lain sebagainya. Jika tidak dilandasi dengan bangunan cinta, maka pondasi rumah tangga akan mudah roboh seiring berbagai liku-liku kehidupan rumah tangga yang dijalani. Tetapi, melalui aktor Suhita, konsep mindset negatif tentang perjodohan seakan sirna. Suhita dengan kecerdasan emosional dan intelektualnya mampu memikat hati Gus Biru yang menjadi suaminya. Dan akhirnya perjodohan berakhir pada penyatuan dua insan yang saling mencintai.
“Hati Suhita” memberikan pengaruh terhadap sudut pandang seseorang tentang perjodohan. Dan karya ini, dikerjakan oleh Neng Khilma dengan iringan doa serta kondisi berwudhu. Tentu, Allah menyertai sajak-sajak yang tertuang dalam goresan tintanya. Melalui intuisi yang menjadikan karya ini patut diabadikan lewat film. Saya yakin bahwa novel yang difilmkan merupakan novel yang berkualitas tinggi. Bahkan novel beliau masuk dalam kategori best seller. Ya, ini adalah keberkahan yang Allah berikan kepada beliau. Saya pun masih ingat dengan pesan beliau bahwa menulis itu harus terhubung dengan Allah. Sehingga “Hati Suhita” ini memikat para penikmat novel maupun dunia perfilman. Termasuk saya yang suka dengan film tersebut.
Melalui wejangan dan karya dari Neng Khilma, pun saya berfikir bahwa beliau adalah sosok penulis yang dekat dengan Sang Khaliq. Karya beliau tidak hanya “Hati Suhita”. Tetapi, masih banyak lagi karya yang sudah dihasilkan sebelumnya. Andaikan, semua penulis seperti beliau. Maka, bukankah penulis itu sangat dekat dengan Sang Khaliq? Penulis dan Sang Khaliq saling terhubung dalam dunia intuisi. Sang Khaliq membimbing penulis dalam berimajinasi, mencari data, hingga menyusun kalimat yang bermakna. Sehingga, hubungan penulis dengan Sang Khaliq tak terbatas hanya dalam konsep ibadah shalat maupun dzikir. Melainkan dzikirnya seorang penulis adalah menulis.
Komentar
Posting Komentar