KOPDAR dan Kenangan 14 Tahun yang Lalu
KOPDAR dan Kenangan 14 Tahun yang Lalu
Oleh: Siti Rodiah
Sejak ada pengumuman agenda KOPDAR, saya tertarik mengikutinya. Yang pertama adalah bisa berkumpul dengan kawan-kawan SPK. Yang kedua adalah mencari pengalaman baru. Dan yang terakhir adalah faktor lokasi KOPDAR itu sendiri. Kali ini, KOPDAR SPK diselenggarakan di UNESA. Buat saya ini spesial. Saya yang dari Aliyah sudah menaruh hati dengan UNESA, kini bisa mencurahkan luapan harapan yang terkungkung. Rasanya tak sabar saja hati ini untuk mengikuti KOPDAR di UNESA. Sudah terbayang dalam benak ini untuk berjalan di tanah UNESA, sembari menikmati bangunan yang megah. Dan yang tidak terlewatkan adalah mengambil dokumentasi disana. Ini penting, karena bagian dari pembuktian diri bahwa harapan saya saat di Aliyah sudah terwujud. Walaupun dimomen yang berbeda.
Akhirnya waktu yang ditunggu pun datang juga. Saya dan kawan-kawan SPK Tulungagung melakukan perjalanan di Surabaya. Ya, mengikuti KOPDAR SPK ke-10. Lokasinya di kompleks kampus Lidah Wetan, Surabaya. Di Lidah Wetan terdapat beberapa fakultas. Salah satunya adalah Fakultas Pendidikan. Saat elf ini mulai berada di depan kampus, tampak jelas bangunan yang megah. Selain itu, nampak asri di tengah cuaca yang begitu panas ini. Surabaya terkenal dengan kota yang panas. Namun, saat di lokasi kampus, opini tersebut terbantahkan. Pasalnya, banyak pepohonan yang diatur secara rapi. Bahkan saya juga melihat ada taman yang disekelilingnya ada pepohonan. Saya yang melihatnya, rasanya nyaman. Mungkin jika menjadi mahasiswa disini akan betah juga untuk belajar di luar kela. Hehehe…
Berkaitan dengan lokasi KOPDAR, ada kenangan masa lalu yang masih tertancap dalam pikiran ini. Ya, tepatnya 14 tahun yang lalu saya yang masih duduk di bangku Aliyah ingin melanjutkan studi di UNESA. Saya memilih jurusan PGSD. Walaupun, tidak ada kecocokan antara jurusan sekolah yang sedang saya jalani. Saat Aliyah sudah ada penjurusan. Yaitu memasuki jenjang kelas dua. Saya yang jurusan IPA mengambil jurusan IPS. Karena jurusan PGSD masuk pada ranah IPS. Tentu ada ketidakcocokan. Namun, hati saya mengatakan ingin melanjutkan studi di jurusan PGSD. Agar harapannya bisa menjadi guru SD. Ya, itu adalah bagian cita-cita masa lalu saya.
Saya teringat bahwa 14 tahun yang lalu memantapkan diri mengikuti jalur PMDK. Yaitu jalur seleksi penerimaan calon mahasiswa melalui seleksi prestasi bidang akademik. Kalau sekarang, jalur tersebut adalah SNMPTN. Dimana, jalur ini menggunakan prestasi akademik berupa nilai rapor, kejuaraan, dan sertifikat penghargaan yang dimiliki. Kala itu, saya menggunakan nilai rapor. Padahal, saya yang bukan siswa kategori 3 besar, tetapi percaya diri mengikuti jalur tersebut. Sebenarnya, saya sudah diberikan wejangan oleh guru BK untuk mengambil kampus lain. Tetapi, karena faktor dorongan hati, saya pun tak menghiraukan akan wejangan beliau.
Saya pun berangkat ke UNESA bersama teman-teman satu sekolah. Tujuan kami adalah mengikuti tes wawancara. Kami yang belum tahu daerah kota, berangkat dengan naik kereta api. Modal kami adalah komunikasi dengan alumni yang menjadi mahasiswa di UNESA. Kami berangkat berempat. Perempuan semua dengan membawa berbagai dokumen penting dan tas yang lumayan berat isinya. Saya pun teringat bahwa uang administrasi mengikuti PMDK adalah hasil dari tabungan pribadi. Saya harus menjual cincin yang dibeli dengan susah payah. Yaitu menabung dari sisa uang jajan. Ya, saat itu orang tua tak memiliki cukup uang untuk memfasiltasi saya mengikuti PMDK. Tekad kuat adalah modal saya. Serta restu dari kedua orang tua yang menjadi teman perjalanan saya mengikuti PMDK di UNESA.
Tiba di stasiun Wonokromo, kami pun naik angkutan kota atau disebut sebagai lyn. Namun, ada banyak lyn dengan kode yang berbeda. Kami pun harus cermat dalam memutuskan untuk memilih yang mana. Salah satu teman saya yang sudah melakukan komunikasi dengan alumni, memutuskan untuk memilih lyn dengan kode DKM. Angkutan itu akan mengantarkan kami di tempat tujuan. Alasan pemilihan angkutan adalah biaya yang terjangkau dikantong yang pas-pasan ini. Saat itu, kami harus membayar administrasi di kampus ketintang. Wah, suasana ramai. Saya masih ingat betul kenangan masa lalu. Kami dipandu dengan alumni hingga prosesnya selesai.
Saya dan teman-teman sekolah mengikuti tes wawancara di kampus lidah wetan. Kebetulan pilihan jurusan kami ada di kampus tersebut. Saya memilih jurusan PGSD, ada yang bahasa inggris, BK dan seni budaya. Melalui proses yang panjang, kami pun harus menunggu hasilnya. Saya yang sangat khawatir untuk kedepannya, harus menelan rasa was-was. Pasalnya, dari 1.200 pendaftar yang dibutuhkan hanya 30 orang saja. Dan akhirnya, saya dinyatakan tidak lolos. Sungguh, harapan yang terwujud. Bukan saya saja, ketiga teman saya pun demikian. Ya, ini menjadi kenangan kami dimasa itu.
Namun, dari acara KOPDAR ini saya bisa bernostalgia lagi. Mengingat kenangan masa lalu. Sungguh jauh perbedaan bangunan dari 14 tahun yang lalu. Itu, dari sisi bangunannya. Tetapi, dari segi nuansanya tetap sama, yaitu asri. Walaupun, saya tidak ditakdirkan menjadi mahasiswa PGSD di UNESA. Tetapi, nyatanya harapan 14 tahun yang lalu bisa terwujud juga. Saya bisa mengikuti perkuliahan disana. Sebut saja acara talkshow, itu bagian dari perkuliahan saat itu. Karena saya dapat banyak ilmu dari para pakar. Selain itu, saya merasakan duduk di kursi pada ruang diskusi. Berasa menjadi seorang mahasiswa juga. Ya, KOPDAR ini mengantarkan saya pada terwujudnya harapan 14 tahun yang lalu. Walaupun dalam suasana yang berbeda. Tetapi, minimal sudah merasakan lingkungan UNESA dalam sehari.
Kebetulan, tempat diskusinya juga di gedung FIP. Lokasinya dekat dengan jurusan PGSD. Saya semakin tergugah untuk mendokumentsikan momen ini. Dalam hati kecil ini mengucap syukur. Dimana 14 tahun yang lalu saya tak sempat melihat gedung jurusan PGSD. Tetapi, di acara KOPDAR ini bisa melihatnya secara langsung. Sungguh, ini momen yang luar biasa bagi saya. KOPDAR membawaku ke kenangan masa lalu.
Komentar
Posting Komentar