ISHOMA dan Kemacetan di Perjalanan Pulang
ISHOMA dan Kemacetan di Perjalanan Pulang
Saya dan rombongan SPK dari Tulungagung mulai menginjakkan kaki di Elf. Walaupun, terasa berat untuk berpisah dengan kawan-kawan SPK lainnya tak bisa dielakkan lagi. Tetapi, pertemuan ada batas waktunya. Kita tidak bisa mengatur waktu untuk kepentingan dorongan psiklogis yang ingin terus berkumpul. Masing-masing memiliki peran yang sempat terhenti sejenak untuk mengikuti KOPDAR. Lambaian tangan terus diayunkan oleh mereka. Dari dalam Elf ini, kami hanya bisa melambaikan tangan juga. Ingin rasanya turun sebentar dan berbincang-bincang. Menghilangkan kerinduan ini yang masih beberapa menit berpisah. Sayang, Elf tak bisa dikompromi. Baiklah, memang ini sudah saatnya kami harus berpisah. Menungggu enam bulan lagi yang masih lama. Sembari refleksi diri akan prospek literasi kedepannya.
Jalan sudah ramai dengan aktivitas para penduduk. Ada yang berjualan di sepanjang jalan. Ada yang sekedar berlalu lalang saja. Ada pula yang mulai menghabiskan malam minggu ini untuk berkumpul dengan kawan. Ya, kebetulan saat itu adalah malam minggu. Bagi yang masih bujang, tentu malam minggu adalah momen untuk berkumpul bersama kawan. Bagi yang sudah memiliki pasangan, momen ini tak bisa dilewatkan. Pasalnya, malam minggu adalah waktu yang longgar bagi sebagian orang di tengah aktivitas yang padat merayap. Tentu, malam minggu pilihan yang tepat untuk merajut komunikasi, membangun mahligai cinta, serta saling memahami diantara keduanya. Walaupun hanya sekedar nongkrong atau menikmati suasana malam di taman. Itu pun sudah cukup.
Salah satu diantara kawan mengusulkan untuk ISHOMA di rest area. Pak supir pun mengarahkan Elf menuju rest area. Di tengah perjalanan, Pak Emcho mengundang kami untuk bersilaturahmi di rumah beliau. Tetapi, melihat waktu yang tidak memungkinkan, kami pun menolak dengan hati yang teramat berat. Permohonan maaf dan ucapan terimakasih tak luput kami lantunkan kepada beliau. Melalui pesan whatsapp yang sampaikan oleh Mbak Zahra kepada beliau. Ya, jujur saja kami memang tidak enak untuk menolak. Tetapi, mungkin ini adalah pilihan yang tepat. Mengingat perjalanan ini masih panjang. Dan waktu sudah senja. Estimasi perjalanan via tol sekitar 4 jam. Jika kami harus mampir, tak terbayang sampai di rumah jam berapa. Hehehe…
Malam hari ini terasa sunyi di area tol. Hanya lampu jalan yang terlihat. Elf pun membelokkan arah ke kawasan rest area. Kali pertama saya singgah disini. Lumayan luas untuk menampung para pelancong yang istirahat sejenak. Tempat yang nyaman, bisa mengobati rasa lelah ini disepanjang perjalanan. Berbagai fasilitas pun tersedia disana. Mulai dari toko dengan aneka keperluan para pelancong, kedai makan, toilet, dan masjid yang dibangun dengan megahnya. Saya dan kawan-kawan lainnya menuju toilet. Walaupun, ini hanya sebatas rest area, tetapi tempatnya bersih. Tentu, ini memberikan kesan nyaman bagi para pelancong. Saya pun tidak melihat kotak infaq di area toilet. Artinya, tolilet ini tidak berbayar. Wah ini luar biasa menurut saya. Walaupun gratis, tetapi lokasi yang ditawarkan juga bersih.
Saya, Mbak Zidna dan Bu Nikamah menuju masjid. Kala itu, masjid dipadati oleh para pelancong. Seakan serambi masjid ini tak henti dilalui orang yang hendak ibadah maupun akan meninggalkan area masjid. Sepasang sepatu ini saya lepas. Kaki ini melangkah menuju tempat wudhu. Ternyata, wudhunya harus di area masjid. Di toilet tidak tersedia tempat wudhu. Bagi saya ini tergolong efektif. Antara toilet dan tempat wudhu yang terpisah. Agar tidak menimbulkan berbagai masalah. salah satunya antrian yang panjang dan penuhnya area toilet akan kerumunan orang. Hal ini yang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi para pelnacong yang hendak melakukan ISHOMA.
Ternyata, area wudhu juga dipadati oleh hamba Allah yang hendak sholat. Saya pun harus mengantri. Budaya antri itu penting. Agar kita bisa menghormati hak antar sesama. Kini, tibalah saya untuk merasakan dinginnya air. Saat, saya menghidupkan kran, air yang keluar terbilang sedikit. Mungkin saking banyaknya pengunjung, sehingga airnya banyak berkurang. Selanjutnya, saya menuju masjid. Tempat yang nyaman, membuat sholat ini tenang. Bu Nikmah menjadi imam saya dan Mbak Zidna. Kami menjamak qosor antara maghrib dan isya. Agar saat tiba di rumah, kami sudah tidak punya tanggungan. Rakaat demi rakaat telah kami tunaikan. Kami pun saling mengobrol. Dan persepsi kami pun sama akan kenyamanan masjid ini. Tampak dari arah jendela masjid bangunan toko serta tempat makan. Kami pun segera meninggalkan masjid untuk berkumpul kembali dengan kawan-kawan lainnya.
Saya yang baru menaruh mukena di dalam tas, ditawari makan oleh Mbak Zahra. Saya mengambil kotak nasi yang tersedia. Saya kagum oleh panitia KOPDAR ini. Penjamuannya tak terhenti hanya sebatas selesainya acara KOPDAR. Bahkan dikala perjalanan pulang pun, mereka memberikan perhatian yang amat dengan menyediakan makanan. Tak hanya makanan saja, snack pun juga tersedia. Kami hanya berucap syukur dan kagum atas perhatian para panitia kepada peserta KOPDAR.
Saya mengambil kotak makan dan mencari tempat duduk yang nyaman. Saya bersama mbak Zidna duduk di pinggir sungai. Namun, saat itu sungai terlihat kering tak ada airnya. Ya, musim kemarau ini seakan menyedot beberapa sumber air, termasuk sungai. Di malam menjelang perjalanan ke rumah ini, angin berhembus agak kuat. Badan saya yang kecil ini terasa dingin terkena hempasan angin yang lalu lalang. Sembari makan kudapan ini, saya juga mengobrol dengan mbak Zidna. Menikmati makan di luar ruangan terasa semakin nikmat saja. Nafsu makan pun seakan meningkat saja. Hawa yang dingin, serta lanutan lagu dari toko, seakan ikut meramaikan malam ini.
Perjalanan pun dilanjutkan lagi. Semua kawan-kawan pun masuk ke Elf. Saya melihat gawai yang batreinya sudah dibawah 18 persen. Saya ingin mengisi daya pada gawai ini. Tetapi, masih bergantian dengan Bu Nikmah yang masih mengisi gawai. Akhirnya saya memilih memode pesawat. Agar batrei bisa awet. Karena perjalanan masih panjang. Saya pun juga harus berkabar dengan Ibu jika sudah hampir tiba di rumah. Sehingga, menghemat penggunaaan gawai adalah pilihan yang tepat. Walaupun, ingin rasanya menuangkan catatan perjalanan. Seperti Mbak Filza kala itu yang mengoperasikan gawainya. Terlihat sibuk dengan gawainya. Jemarinya seakan tak henti memencet gawainya. Seketika, kawan-kawan pun bersorak. Bahwa Mbak Filza telah menguploud catatan KOPDAR di grub. Wah menjadi pemantik bagi saya dan kawan-kawan lainnya untuk segera mengirimkan catatan KOPDAR di grub.
Saya merasa lelah dan ngantuk. Saya pun memilih untuk tidur. Walaupun terasa tidak nyaman tidur di dalam kendaraan, tetapi minimal saya bisa memejamkan mata. Disepanjang tol ini tidak tampak keindahan pemandangan alam. Yang tampak hanyalah gelapnya langit dan sinar lampu. Mungkin, memilih tidur tidak rugi. Perjalanan pun juga masih panjang. Walaupun saya mencoba untuk tidur. Tetapi tidak bisa tidur juga. Berkali-kali saya harus berganti arah. Kadang mencoba tidur dengan memringkan badan sebeleh kiri, kadang juga beralih sebelah kanan. Kalau capek arah miring, saya memilih duduk biasa dengan bersedekap. Saya merasakan Elf berhenti sejenak. Saya pun terbangun, akhirnya perjalanan sudah meninggalkan tol.
Saya pun kembali bangun. Saya melihat kendaraan yang berlalu lalang begitu padat. Ya, maklum saat itu adalah malam minggu. Di pinggir jalan, banyak kerumunan orang yang menghabiskan malamnya untuk nongkrong. Menikmati secangkir kopi dengan kawan relasinya seakan serasa healing saja. Pun saya melihat padatnya kendaraan roda dua maupun roda empat di jalan raya. Pemuda dan pemudi yang tengah berboncengan, juga tak kalah andil dari kerumunan kendaraan disepanjang jalan raya ini. Dalam benak hati ini, ya mereka masih muda dan lajang. Tentu, tak ada sekat bagi mereka untuk menghabiskan malam minggu dengan siapa. Namun, harus berhati-hati dalam memilih teman untuk pergi keluar. Apalagi dikala malam dan tidak ada teman yang mendampingi. Hal ini sangat berbahaya seiring beredarnya kasus asulisa yang meresahkan para orang tua.
Saat di Kertosono, terasa nuansa malam minggu. Kemacetan tak terelakkan lagi. Elf yang kami tumpangi sering berhenti. Hingga Pak Sopir tak sabar untuk mengendari Elf ini. Kawan-kawan yang masih terjaga dari serangan kantuk, mencoba menghibur beliau. Termasuk saya yang sudah tidak merasakan kantuk lagi. Guyonan demi guyonan seakan menjadi pelipur lara akan derita kemacetan yang panjang ini. Setengah jam berhenti, dan lima menit jalan. Hal inilah yang menjadi faktor akan guncangan psikologis bagi pengemudi khususnya. Mau belok arah kanan, ternyata sudah ada kendaraan. sebaliknya arah kiri, juga sudah ada kendaraan. Mau tidak mau harus mengikuti takdir sebagai penghuni jalan.
Tampak kendaraan roda dua yang lihai dalam mencari celah jalan pintas. Jika banyak orang yang mengatakan bahwa raja jalan itu adalah kendaraan yang berukuran besar, maka opini tersebut terbantahkan saat mengalami kemacetan yang panjang. Kendaraan besar terkalahkan dengan kendaraan kecil yang mampu mencari celah ditengah kendaraan yang lain antri menjalankan mesinnya. Terlihat juga bus yang mengangkut banyak penumpang. Saya melihat banyak penumpang yang berdiri. Sembari merangkul tas. Itu, mengingatkanku kepada suami yang situasinya sama. Setiap pulang ke rumah, beliau naik bus. Seringkali beliau harus berdiri saat perjalanan pulang ke rumah. Padahal sudah lelah dari kepenatan bekerja, namun tidak merasakan nyaman saat melakukan perjalanan pulang. Hati ini terenyuh saat melihat situasi yang tampak di depan mata.
Pak Sopir pun berkali-kali menelfon rekannya. Beliau mengeluarkan keluh kesahnya lewat obrolan tersebut. Ya, saat yang kritis memang butuh teman curhat. Minimal beban psikologis mulai berkurang. Kawan-kawan pun terus memberikan dukungan serta guyonan agar situasi yang sulit ini bisa terurai. Pun, saya melihat pohon yang melengkung dengan tajamnya. Seakan menandakan alam sedang tak bersahabat. Mungkin, di luar anginnya kencang. Dalam hati ini hanya bisa terucap permohonan keselamatan kepada Sang Khaliq. Situasi ini memang tidak nyaman dihati.
Berkat kesabaran dan ketenangan, akhirnya kami melalui situasi sulit tersebut. Setelah melewati rel kereta api, perjalanan kembali normal. Pak Supir pun tampak lega. Saya pun meminta Bu Nikmah untuk bergantian mengisi batrei di kabel USB yang tersedia. Pun Bu Nikmah mengatakan bahwa batreinya juga tidak bisa cepat terisi. Daya listriknya lemah. Saya pun yang tidak bisa berpikir panjang, hanya bisa mencoba saja akan kebenaran dari beliau. Karena batrei saya tinggal 11% kala itu. Saya pun kembali tidur. Karena saya merasa kantuk lagi. Saya meminta Mbak Zidna untuk membangunkan jika sudah tiba di Kediri.
Perjalanan sampai di Kediri. Bu Nikmah mengatakan bahwa batreinya tinggal 1%. Akhirnya, saya mencopot kabel USB tersebut. Ternyata yang dikatakan Bu Nikmah benar. Batrei saya tidak juga bertambah dayanya. Padahal sudah 1 jam lebih. Saya mencoba mengaktifkan kembali gawai ini. Ibu saya sudah melakukan panggilan sebanyak 7 kali. Saya yang cemas dengan Ibu dan gawai ini, seketika langsung menghubungi adik saya. Menelfonnya dan memberikan kabar akan posisi saya sekarang. Karena menelfon ibu saya juga sulit. Butuh waktu berkali-kali, baru diangkat oleh beliau.
Akhirnya, perjalanan KOPDARku berhenti di depan pertigaan Kemenag. Saya berpamitan kepada kawan-kawan SPK Tulungagung. Ada harapan bagi saya dan kawan-kawan lainnya untuk bersua kembali. Sungguh, perjalanan yang panjang ini menancapkan dalam hati. Kebersamaan bersama kawan-kawan SPK Tulungagung sungguh keren bagi saya. Kenangan demi kenangan yang pada akhirnya mengisi kehidupanku. Saya pun turun dari Elf sembari membawa tas dan snack yang belum sempat dimakan. Lambaian tangan ini kembali terjadi. Selamat tinggal kawan-kawan, senang rasanya berkumpul dan bertukar pikiran dengan kalian. Dengan menarik nafas, ku langkahkan kaki ini menuju pinggir jalan untuk menunggu jemputan. Dokumentasi kegiatan KOPDAR dan kebersamaan bersama kawan-kawan SPK masih terngiang jelas dalam pikiranku. Semoga akan ada kesempatan dilain waktu untuk bersua kembali. Aamiin….
Komentar
Posting Komentar