Belajar dari Zelda: Keterbatasan Bukan Hambatan untuk Tidak Berkarya

     Belajar dari Zelda: Keterbatasan Bukan                 Hambatan untuk Tidak Berkarya
                        Oleh: Siti Rodiah

Acara talkshow Literasi di UNESA penuh dengan kudapan bergizi. Khusunya pengaruh akan peningkatan motivasi diri untuk berliterasi. Baik memperbanyak bacaan maupun mengahasilkan tulisan-tulisan. Pasalnya, para pemateri sangat hebat dalam memberikan paparan materi kepada para peserta talkshow. Mereka tidak hanya piawai dalam berbicara, tetapi tauladan menjadi pijakan share pengalaman bagi para peserta talkshow. Tak heran, segala apa yang dibicarakan sangat bermakna dan bukan tong kosong yang nyaring bunyinya. Melainkan tutur kata yang sarat akan pengalaman sebagai seorang penulis yang sudah berada pada level senior. Hingga, buku kecil yang saya bawa penuh dengan tulisan dari tutur kata para pemateri yang hebat. Ya, penuturan para pemateri merupakan kudapan bergizi bagi pemuliahan kesehatan literasi saya.

Namun, pada acara tanya jawab kepada para pemateri, ada sosok mahasiswi hebat yang duduk di depan. Moderator memperkenalkan identitas dari mahasiswi tersebut. Dia adalah Zelda dari jurusan seni musik. Zelda merupakan mahasiswi disabilitas penyandang tunanetra. Kedua matanya tidak bisa bekerja seperti orang normal pada umumnya. Zelda masih semester 3. Hal yang paling mencengangkan adalah dia sudah menghasilkan 8 buku. Saya yang duduk di belakang hanya bisa menggeleng kepala. Rasanya malu dengan diri ini. Saya yang normal belum juga menghasilkan satu buku pun. Tetapi Zelda yang memiliki keterbatasan panca indra mampu menghasilkan buku. Zelda pun bertanya kepada para pemateri terkait cara keluar dari zona nyaman sebagai seorang penulis. Wah, sungguh keren Zelda. Dari pertanyaan tersebut mengindikasikan dia sebagai seorang penulis ingin terus menghasilkan karya. Yaitu karya yang kreatif dan tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Berkaitan dengan aktivitas menulis, memang semua orang memiliki berbagai problema. Dimana, problema itu yang menghambat seseorang untuk tidak menulis. Akhirnya, seseorang berada diantara keterbatasan. Menurut KBBI bahwa terbatas adalah telah dibatasi atau ditentukan batasan-batasannya atau tidak leluasa. Artinya seseorang yang akan melakukan sesuatu akan dibatasi oleh variabel-variabel tertentu. Dimana, variabel tersebut yang menjadi penghambat bagi seseorang untuk tidak leluasa dalam melakukan aktivitas. Atau seseorang yang akan melakukan aktivitas sudah jelas akan batasan-batasan ruang geraknya. Termasuk dalam ranah kepenulisan yang sering menyudutkan seseorang berada pada zona keterbatasan.

Bagai seseorang yang memiliki kesempurnaan panca indera, tentu keterbatasan dalam menulis mengarah pada waktu. Orang yang normal, umunya disibukkan berbagai aktivitas yang tak berhenti. Hanya saat jam malam maupun siang yang biasanya digunakan untuk istirahat. Tentu, saat aktivitas padat merayap tak ada waktu luang untuk menulis. Dan alasan ini yang dapat dijadikannya sebagai kambing hitam untuk tidak menulis. Jika, kita pintar dalam mengelola waktu, dimungkinkan ada sedikit waktu untuk ambil jeda. Ya, ambil jeda untuk menulis. Sedangkan menulis bisa kita lakukan di media manapun. Bisa via gawai, laptop, maupun kertas. Kita sebagai orang normal tidak terbatas untuk melakukan aktivitas menulis. Karena panca indera yang kita miliki mampu menjangkau media menulis apa saja.Tinggal kemauan dalam diri yang harus kita genjot.

Tetapi, bagi seseorang yang penyandang disabilitas seperti Zelda, bagaimana dia menulis? Kita tahu bahwa aktivitas menulis perlu diimbangi dengan membaca. Agar dapat meluaskan khasanah pengetahuannya. Selain itu akan memperbanyak perbendaharaan kata. Seorang Zelda harus melalui proses yang berbeda dari orang normal lainnya. Dimana untuk membaca saja, dia harus menggunakan alat khusus. Yaitu menggunakan aksara Braille berupa titik-titik timbul yang dapat diraba dengan ujung jari. Sedangkan untuk menulis, dia juga harus dibantu dengan alat yang disebut reglet. Jika bukan karena semangat dan tekad kuat, tentu seseorang penyandang disabilitas tidak akan bisa berkembang literasinya. Lalu bagaimana dengan kita sebagai orang yang normal? Dimana, kita dimudahkan untuk membaca dan menulis diberbagai media, baik elektronik maupun manual. Tapi, masih saja kita beralasan untuk tidak menulis.

Sosok Zelda mengajariku akan keterbatasan dan semangat untuk terus menghasilkan karya. Dia yang saat ini menjadi seorang mahasiswi saja sudah mampu menghasilkan karya. Bahkan, menjadi mahasiswi di UNESA, tentu ada berbagai tugas akademik yang mengguyurnya di tengah keterbatasan penglihatannya. Tetapi, dia mampu menghasilkan karya. Seolah keterbatasan yang fundamental bagi seorang penulis, dia patahkan dengan semangat juang untuk terus berkarya. Dari apa yang ditanyakan kepada sang Pemateri, seolah Zelda ingin terus menulis dan menghasilkan buku lagi. Sungguh, semangat literasinya jauh dari orang normal yang difasilitasi kesempurnaan panca indera. Saya pun merasa malu dengan diri saya pribadi. Zelda yang kesulitan dalam membaca dan menulis, tetap semangat untuk berkarya.

Belajar dari Zelda bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berkarya. Tetapi menjadi boomerang bagi seorang penulis untuk berani melawan keterbatasan itu. Dimana, melalui tekad dan semangat kuat akan merobohkan dinding-dinding keterbatasan itu. Tinggal bagaiman kita berani melawan keterbatasan itu. Sejatinya, bukan waktu yang disalahkan. Bukan juga aktivitas kita yang terlalu padat untuk disalahkan. Bukan pula keadaan kita yang terbatas, baik pengetahuan maupu skill menulis. Melainkan niat kita untuk memulai dan menyelesaikan tulisan. Selama kita masih hidup, tentu kita ada kesempatan untuk belajar dan mencoba menulis. Lambat laun  hasil dari tempaan itu akan menghasilkan embrio berupa karya. Ya, kuncinya adalah pada diri kita masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu