Takdirku Sebagai Peserta KOPDAR SPK ke-10
Takdirku Sebagai Peserta KOPDAR SPK ke- 10
Oleh: Siti Rodiah
Saat Prof Naim share pemberitahuan tentang KOPDAR SPK ke-10 di UNESA, terketuk hati ini ingin mengikutinya. Terlebih, pamphlet yang didesign apik dan tertata rapi, menjadikan jari ini ingin mengirimkan pesan ke Mas Roni bahwa “saya ikut KOPDAR”. Sepintas terbayang akan keseruan akan agenda KOPDAR yang dibarengi dengan talkshow literasi. Apalagi, pematerinya adalah Ning Khilma Anis yaitu penulis novel “Hati Suhita”. Serta Bapak Muchamad Khoiri yang saya ta’dimi akan “wejangan” beliau yang memecut pendengarnya untuk giat berliterasi. Tak lupa kampus UNESA yang menjadi tempat KOPDAR kali ini, mendatangkan tarikan magnet dalam hatiku untuk datang kesana. Ya, berbagai faktor tersebut memantapkanku untuk selalu mengharap kepada Rabb yang menguasai alam raya. Yang mampu memudahkan niatku untuk mengikuti KOPDAR di UNESA.
Kala itu, saya izin dulu kepada suami untuk tholabul’ilmi di majelis KOPDAR. Suami pun memberikan ACC kepadaku. Kuberikan pelukan hangatku kepadanya sebagai rasa syukurku pada beliau. Akhirnya, beberapa hari kemudian saya mencoba menghubungi Mas Roni untuk mendaftarkan diri sebagai peserta KOPDAR. Ternyata, masih saya yang mendaftarkan diri dan keluar sebagai pendaftar pertama. Hehehe….selanjutnya, beliau share list peserta KOPDAR SPK ke-10 di grub. Termasuk nama beliau berada nomor 2. Berhari-hari lamanya, semua nomor terisi nama yang ikut KOPDAR. Ada 11 anggota SPK Tulungagung yang mengikutinya. Bu Eni, sempat japri saya bahwa beliau tidak bisa ikut KOPDAR. Karena bebarengan dengan agenda di kampus. Sedangkan kawan-kawan SPK lainnya juga berkomentar di grub bahwa ada acara wisuda di kampus. Ya, seringkali apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Tujuh hari menjelang KOPDAR, saya melejitkan doa. Bermohon kepada Allah agar dimudahkan mengikuti KOPDAR. Sungguh kehidupan ini dinamis. Tak terduga apa yang akan terjadi setelahnya. Saya takut jika ada hal buruk terjadi kepadaku atau anggota keluargaku lainnya. Yang menjadi jalan terjal perjalananku ke UNESA. Saya teringat saat mengikuti KOPDAR di Bondowoso. Dua hari sebelum keberangkatan, anak saya jatuh sakit. Kala itu, hati ini terasa hancur saja. Syukur alkhamdulillah anak saya diberikan kesembuhan oleh Allah dengan durasi waktu yang cepat. Yang pada akhirnya saya memantapkan ikut KOPDAR di Bondowoso. Dari pengalaman itu, saya menjadi takut untuk berangan-angan dengan kejadian yang belum terjadi. Sehingga, ku isi hari-hari menjelang pemberangkatan dengan iringan doa kepada Allah.
Akhirnya, dengan pakaian batik berwarna ungu dan mengenakan rok putih, saya duduk di dalam Elf bersama kawan-kawan SPK Tulungagung. Allah menakdirkanku menjadi peserta KOPDAR. Takdir adalah ketetapan Allah yang bersifat hak preogatif-Nya. Sungguh, jika Allah tidak menakdirkanku, tentu saya tak akan duduk bersama kawan-kawan SPK kala itu. Senyum manis dan ucapan “hamdalah” mengiringi perjalananku ke UNESA. Tertiba, saya mendapatkan pesan di grub dari Mas Roni bahwa beliau izin tidak dapat mengikuti KOPDAR. Saya pun kaget dengan pesan yang bersifat mendadak. Padahal sepanjang perjalananku dari rumah menuju tempat penjemputan rombongan, saya selalu berbagi kabar dengan beliau. Saya pikir beliau sudah ada di Elf. Ternyata, beliau sudah meminta izin kepada rombongan yang berada di rumah Mbak Zahra sebagai titik kumpul pemberangkatan. Ya, lagi-lagi ini adalah takdir dari Allah kepada Mas Roni.
Saat saya menikmati perjalanan, hati ku semakin yakin bahwa saya benar-benar menjadi peserta KOPDAR. Hingga tibalah saya dan kawan-kawan lainnya di UNESA. Kami pun turun dengan melihat kemegahan gedung UNESA. Terus terang saja, ingin rasanya saya foto di sekitar gedung Fakultas Pendidikan. Tapi, rasanya tak elok melihat acara yang sudah berlangsung. Kami pun harus berjalan dari tempat parkiran menuju lokasi. Hmmm…ternyata lumayan jauh untuk berjalan. Dengan bersepatu pantofel, rasanya cepat lelah untuk berjalan. Alangkah terkejutnya juga, kami harus melewati dua tangga untuk sampai di lokasi talkshow. Sungguh, mimpi saja tak terlintas dalam benak kami. Menguras banyak kalori untuk duduk manis mengikuti acara talkshow, rasanya sesuatu. Anggap saja ini olahraga pagi. Hehehe… Dengan nafas terengah-engah, akhirnya saya dan kawan-kawan duduk juga ditempat yang sudah tersedia. Senyum manis dan hati lega sudah kuat kurasakan.
Sebagai peserta KOPDAR, saya ditakdirkan dapat bersua secara langsung dengan pengurus SPK pusat serta para pemateri talkshow. Dari arah belakang para peserta talkshow, terlihat Bu Hitta dengan memangku anaknya di kursi. Saya pun menghampiri beliau dan mengucapkan salam. Satu tahun sejak KOPDAR di Bondowoso, baru kali ini bisa bersua secara langsung. Syukur alkhamdulillah silaturahmi ini tetap terjaga. Ini adalah salah satu hikmah saya ditakdirkan sebagai peserta KOPDAR. Selain itu, saya juga dapat berjumpa secara langsung dengan penulis novel “Hati Suhita”. Dimana, novel tersebut sudah difilmkan dan menjadi favorit bagi anak muda. Termasuk saya yang sudah tak muda lagi. Selanjutnya, saya juga dapat bersua dengan Bapak Emcho yang merupakan sosok pegiat literasi dan pengajar di UNESA. Momentum ini sangat langka bisa saya jumpai di luar acara KOPDAR yang diselenggarakan oleh SPK.
Acara demi acara saya lalui dengan semangat. Walaupun, saat itu saya tidak terlalu “fit”. Karena pola tidur saya yang kacau, menyebabkan saya kurang tidur dan hampir semalam tidak merasakan tidur nyenyak. Sehingga, rasanya hampir melayang saja. Tapi, saya dimampukan oleh Allah untuk mengikuti acara KOPDAR hingga selesai. Mulai dari talkshow hingga acara inti yang dapat dikases oleh kawan-kawan SPK lain menggunakan media zoom meeting. Karena banyak kawan-kawan SPK yang tidak dapat mengikuti KOPDAR dengan berbagai kepentingan yang tak bisa ditinggalkan. Ya, kawan-kawan yang hanya mengikuti melalui zoom, mungkin akan berbeda rasanya denga kami yang duduk di kursi ruang diskusi bersama para pengurus SPK pusat serta anggota SPK lainnya. Takdir ini ku syukuri dengan memperhatikan diskusi serta menikmati kudapan yang terhidang di depan saya.
Tak lupa dokumentasi setiap kegiatan senantiasa kami lakukan. Hingga, memori gawai saya penuh. Ya, ini adalah sebagai bukti bahwa kami mengikuti KOPDAR. Berfoto dengan para pemateri adalah hal yang wajib dilakukan. Karena ini momen langka. Jarang bisa kami jumpai acara yang mempertemukan kami dengan Ning Khilma Anis maupun Bapak Emcho. Serta para penguru SPK pusat yang hanya bisa berkumpul di momen KOPDAR SPK. Diakhir acara, kami bersama anggota dan pengurus SPK pusat berfoto di ruang diskusi. Ini sebagai penutup rangkaian acara KOPDAR. Tak lupa saya bersama kawan SPK Tulungagung juga berfoto bersama di depan gedung Fakultas Ilmu Pendidikan. Terlihat kompak kalau sudah seperti ini. Takdirku sebagai peserta KOPDAR dimampukan oleh-Nya mengikuti setiap rangkaian acara.
Banyak hal yag saya dapatkan sebagai peserta KOPDAR. Mulai dari motivasi menulis, ilmu baru di dunia kepenulisan, pesan para pemateri terhadap penulis pemula, support system dari kawan-kawan SPK, hingga kedekatan secara emosional terhadap anggota SPK yang lain. Sungguh, takdir ini tidak salah jika saya sebagai peserta KOPDAR. Takdir ini memberikan ku semangat baru untuk terus belajar dan menulis. Semoga Allah juga meridhoi kembali untuk saya bisa mengikuti KOPDAR selanjutnya. Karena, bagi saya setiap momen KOPDAR ada hal baru yang saya dapatkan. Khusunya motivasi diri untuk berkarya dan ilmu baru di dunia kepenulisan.
Komentar
Posting Komentar