Pesan Ning Khilma Anis: Tekad, Semangat, Tidak Perlu Butuh Apresiasi Orang

Pesan Ning Khilma Anis: “Tekad, Semangat,             Tidak Perlu Butuh Apresiasi Orang”
                   Oleh: Siti Rodiah

Saya mencoba membuka catatan kecil yang terhimpun pada buku kecil. Ku ambil dari atas almari. Saya pun membaca setiap kata dan memahaminya. Ya, ini oleh-oleh dari KOPDAR kemarin. Sayang, catatan ini masih terserak. Saya mengambil laptop tepat di samping catatan kecil itu. Seolah buku kecil ini menjadi teman bagi laptopku saja. Saya ingin menguraikan makna akan catatan yang tertulis di buku kecil itu. Agar ingatan dan ceceran tulisan itu bisa terhimpun dalam tulisan yang bermakna. Ini juga bisa menjadi dokumentasi bagi kehidupanku bahwa saya pernah mengikuti KOPDAR di UNESA. Saya pun dapat berbagai pengalaman dengan orang lain. Mungkin catatan receh ini memberikan dampak postif bagi orang lain. Khusunya motivasi diri untuk menulis. Ya, catatan KOPDAR tak jauh dari dunia literasi. Hehehe…

Pada lembaran ke dua, saya menemukan kalimat “tekad, semangat, tidak butuh apresiasi orang.” Saya ingat betul, ini pesan dari Ning Khilma bagi para penulis pemula. Saya mencoba mencerna dari setiap kata tersebut dan keterkaitan dengan kemajuan penulis pemula. Karena saya adalah bagian dari spesies tersebut yaitu penulis pemula. Tentu, menjadi penulis pemula banyak dilema yang menghadang. Salah satunya adalah memulai menulis. Saat memulai menulis, kita pasti berperang dengan diri kita. Terutama adalah “takut, ragu-ragu, dan minder.”Akhirnya, tak ada satu pun tulisan yang terbentuk. Karena perasaan tersebut telah menghambat pikiran dan jari-jari kita untuk menulis. Pesan Ning Khilma Anis sangat pas untuk mengurangi dilema para penulis pemula.

Tekad menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kebulatan hati atau kemauan yang bersifat pasti. Jika dikorelasikan dengan aktivitas menulis, tentu kata tersebut sangat cocok. Menurut Muhammad Surya bahwa menulis adalah proses pengungkapan gagasan yang bersumber dari perkembangan informasi dan perbendaharaan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Setiap orang yang akan menulis akan mengandalkan informasi dan pengetahuannya. Tetapi, dalam kenyataannya, saya sebagai penulis pemula sering dihantui oleh rasa takut, ragu-ragu, dan minder. Apakah yang akan saya tulis ini baik atau tidak, menimbulkan miskonsepsi atau tidak, dan lain sebagainya. Tentu, kita membutuhkan tekad, agar timbul rasa optimis dengan apa yang ditulis. Melalui sikap tekad, tulisan akan terwujud. 

Selanjutnya adalah semangat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kekuatan, kegembiraan , gairah. Menulis itu memang harus diikuti dengan rasa semangat. Sehingga muncul kekuatan dalam diri untuk menulis hingga tuntas. Saya pun teringat kembali tutur kata dari Ning Khilma bahwa kita menulis sesuai apa yang kita senangi. Dengan rasa senang pasti muncul semangat dari diri kita. Yang penting senang dulu. Misalnya kita senang menulis cerpen. Tentu, menulis yang bergenre cerpen akan membangkitkan rasa semangat dalam proses kepenulisan. Tetapi, jika kita menulis denga hal yang kurang disenangi atau kuasai, mungkin rasa semangat itu tak bisa berkobar. Akan padam hingga tulisan tak muncul di layar laptop maupun kertas putih. Karena kita tidak tertarik untuk menulis.

Terkahir adalah tidak butuh apresiasi orang. Bagi saya, ini juga bagian dari dilema penulis pemula. Kita sebagai seseorang yang masih dini mengenal literasi, tentu membutuhkan dukungan dari orang lain. Dukungan yang kelihatan sepele, namun berarti bagi penulis pemula. Ya, apresiasi dari orang lain. Melalui apresiasi orang lain, kita lebih semangat menulis dan bertekad untuk terus menulis. Aapalagi, diberikan komentar yang baik. Tentu, semangat menulis kian membara. Tetapi, saat kita mencoba menulis dan redup dari apresiasi orang, seakan merobohkan spirit menulis ini. Padahal sebagai penulis, kita tidak diperkenankan untuk gampang “ceklekkan”. Sifat ini yang nantinya merusak kreativitas penulis. Dan tidak akan muncul karya berikutnya. 

Menulis dimulai dengan tekad dulu, kemudian semangat untuk menyelesaikannya. Dalam setiap karya akan memberikan cerita yang berbeda. Mungkin karya yang pertama banyak orang yang suka dan memeberikan apresiasi. Lain halnya dengan karya selanjutnya, mungkin hanya beberapa orang yang suka. Dan karya selanjutnya, mungkin sepi dari apresiasi orang. Nah, hal seperti ini harus kita abaikan dulu sebagai seorang penulis. Jika kita menulis hanya bertujuan mencari simpati orang, mungkin seumur hidup hanya satu karya yang tampil di kancah dunia literasi. Tetapi, jika penulis berkarya dengan tujuan aktualisasi diri, maka penulis akan berkembang dan memunculkan karya yang hebat.

Pesan Ning Khilma Anis memberikan inspirasi bagi saya sebagai penulis pemula. Saya yakin, proses beliau sebagai penulis cerpen sudah sangat panjang. Beliau kembali menyampaikan pesan kepada peserta Talkshow saat itu, bahwa “dari 1000 tulisan Anda pasti ada yang terbaik.” Pesan ini memecut saya sebagai peserta Talkshow. Bahwa penulis harus terus semangat berkarya dan berkaya. Tak penting itu bagus atau tidak. Yang terpenting adalah tulisan itu selesai. Ya, hal ini perlu didukung dengan “tekad, semangat, dan tidak butuh apresiasi dari orang lain.” Agar kita selalu berusaha untuk terus menulis hingga menghasilkan banyak karya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu