Perjalanan, Pengenalan Diri, dan Keakraban Anggota SPK Tulungagung
Perjalanan, Pengenalan Diri, dan Keakraban Anggota SPK Tulungagung
Oleh: Siti Rodiah
Saat kaki ini naik di Elf, para anggota SPK menyapaku dengan ramahnya. Sembari mengucapkan permohonan maaf atas keterlambatannya. Saya pun hanya berucap, “tak masalah, ini hal yang biasa terjadi”. Pertemuanku pertama kali bersama kawan-kawan SPK Tulungagung yang perempuan, mengahruskanku menyapa satu persatu. Saya melihat pertama kali wajah-wajah mereka. Perkenalan diri adalah pembukaan pagi ini dalam perjalanan ke UNESA. Akhirnya saya pun tahu nama mereka. Disampingku ada Mbak Zidna dan Mbak Filza. Sosok mereka masih asing dimata tapi tak asing diingatan. Ya, yang saya tahu adalah tulisannya saja. Sedangkan Bu Nikmah yang duduk tepat di depanku masih asing bagiku. Kami pun bertegur sapa dan saling mengenal. Sedangkan Mbak Zahra yang duduk disamping beliau, sudah saya kenal secara online juga. Baru kali ini saya melihat beliau secara langsung. Sedangkan anggota SPK yang laki-laki kebetulan yang saya kenal hanya Mas Thoriq. Ya, ini salah satu jejak yang tersisa saat mengikuti KOPDAR di Bondowoso.
Perjalanan berhenti sejenak di Warung kiri jalan. Saya lupa namanya. Tapi saya lihat warung tersebut tak asing bagi sebagian kawan-kawan yang sering melancong ke arah Surabaya dan sekitarnya. Kami pun turun. Wah ini kelihatan saya sendiri yang masih asing diantara kawan-kawan SPK perempuan yang lain. Tapi, pengenalan diri dan komunikasi melunturkan perasaan asing ini. Sejenak kami menikmati semangkuk soto dan segelas teh hangat. Namun, ada beberapa kawan yang lebih memilih nasi pecel. Masing-masing orang memiliki selera tersendiri dalam mengisi nutrisi di pagi hari. Ada juga salah satu kawan yang hanya memesan segelas teh hangat. Itu pun juga sudah cukup untuk sarapan. Tapi, itu tidak berlaku bagiku. Ya, sekali lagi kembali pada selera dan kebiasaan sarapan masing-masing.
Perjalanan pun dilanjutkan. Kami semua masuk ke Elf lagi. Saya banyak berdialog dengan Mbak Zidna. Karena posisi tempat duduk beliau berdekatan dengan saya. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari riwayat pendidikan, rutinitas sehari-hari, bahkan keluarga juga. Walaupun baru pertama kali bertemu langsung, tapi melalui perjalanan ini terasa sudah bertemu sebelumnya. Termasuk Mbak Filza yang bercerita tentang beliau dan rutintas sehari-hari. Pun juga bercerita banyak tentang kehidupan saya. Tentang pekerjaan, keluarga, hingga pendidikan. Sehingga, masing-masing tahu tentang pribadi. Obrolan demi obrolan ini sungguh melunturkan skat diantara kami.
Dari obrolan ini saya menjadi tahu tentang Mbak Zidna dan Mbk Filza. Bahkan, saya juga mulai tahu tentang Mbak Zahra. Saat di warung, kami sempat mengobrol dan menceritakan kehidupan kami masing. Dimana Mbak Zidna adalah mahasiswi pascasarjana di UIN SATU semester 3, sedangkan Mbak Filza adalah seorang dosen di STAI MAS. Dan saya sendiri adalah sebagai guru les di bimbingan belajar yang paginya ada di rumah. Hehehe…pun Mbak Zahra hampir sama dengan saya yang masih stay di rumah. Fokus dengan baby girl nya masih berusia 28 bulan. Ya, usia tersebut masih genting-gentingnya bagi seorang Ibu memberikan perhatian penuh kepada sang Anak.
Obrolan ini tak hanya berkutat pada satu aspek saja. Dimana, kami pun juga memberanikan diri untuk curhat tentang literasi. Ya, mengikuti komunitas SPK, tentu ada suatu tujuan dari masing-masing anggota. Diri kami pun mulai mengakui jika ada keinginan untuk memiliki karya pribadi berupa buku. Sedikit malu untuk mengakuinya. Terutama saya yang selalu turun imannya untuk menulis wajib di grub. Mbak Filza pun menguatkan saya dengan tutur katanya yang bersanad pada Prof Naim bahwa menulis yang kita bisa hingga tulisannya selesai. Ya, ini benar adanya. Karena pada hakekatnya sebuah karya merupakan rangkaian dari tulisan yang terhimpun dan tuntas. Entah itu tulisannya bergenre apa. Yang terpenting sudah tuntas dan dibukukan.
Saya yang masih tenggelam dengan dunia kepenulisan bergenre akademik, ragu untuk menulis yang lain. Dua tahun ini saya mencoba menggeluti dunia artikel ilmiah. Prosesnya tidak mudah. Banyak kendala yang harus dihadapi. Baik proses mencari topik menarik untuk dibahas, penggalian data, hingga mencari sumber referensi yang mendukung. Tak hanya itu, saya kesulitan juga mencari kawan kolaborasi. Kalaupun ada yang mau, mereka juga disibukkan dengan tanggung jawab yang lain. Ya, lagi-lagi kendala pun silih berganti. Makanya, proses selesainya butuh waktu yang lama. Sehingga, kalaupun satu tahun bisa publish satu artikel, itu sudah bersyukur. Kalaupun tidak ada artikel yang tembus, minimal saya sudah berusaha menyempatkan diri untuk produktif menulis.
Melalui obrolan dengan Mbak Filza maupun Mbak Zidna ini, ada pencerahan bagi saya untuk mencoba hal lain. Ini bukan saya meninggalkan dunia yang pernah saya coba sebelumnya, melainkan mencoba hal lain yang bisa dikerjakan. Karena, jika saya hanya berkutat pada dunia artikel ilmiah, saya pun akhirnya akan berjalan lambat. Bahkan akan sering terhenti ketika kendala kepenulisan datang menghadang. Terbesit diri ini untuk merancang apa yang akan saya jadikan topik tulisan. Dimana topik itu, suatu saat nanti dapat menjadi karya pertama saya. Kami pun saling menguatkan satu sama lain. Bahwa suatu saat nanti, kami bisa memiliki buku. Ya, perjalanan ini menjadikan kami saling mengenal. Perjalanan ini pula menjadikan kami akrab dan saling memberikan motivasi untuk terus semangat menulis.
Sayapun membawa beberapa makanan ringan yang bisa dijadikan teman perjalanan. Saya buka kerupuk tahu. Kali ini saya tidak membawa jajan berupa roti. Karena pengalaman waktu perjalanan KOPDAR di Bondowoso tidak habis dimakan. Jadi, saya berinisiatif untuk membawa jajan yang serumpun dengan kerupuk, seperi kerupuk tahu, dan alen-alen yang terdiri dari dua varian rasa. Saya membawa jajan khas Trenggalek untuk kali ini. Saya membagi ke kawan-kawan. Sebaliknya, kawan-kawan pun berbagi makanan dengan saya. Ya, kami saling berbagi. Baik berbagi cerita kehidupan, pengalaman menulis maupun berbagi makanan. Hehehe…..Ini lah yang mempererat hubungan emosional diantara anggota SPK. Dimana, momen pertemuan ini tak bisa dirasakan saat bertemu via online, seperti di grub Whatsapp.
Disepanjang perjalanan ini banyak cerita yang saya dengar dari kawan-kawan SPK. Tetapi, saya pun juga mulai mengantuk saja. Saya memutuskan untuk tidur sejenak. Saya terbangun saat ada salah satu kawan mengatakan “sudah masuk tol”. Mata ini mulai terbuka. Saya melihat sekeliling jalan tol. Saat itu, cuaca sangat cerah. Daerah persawahan telah kami lalui. Penglihatan saya terpusat pada makam yang ada di tengah-tangah sawah. Hati ini sedikit terkejut saja. Ada makam yang lokasinya jauh dari pemukiman warga. Yang hanya sepetak luasnya. Tetapi, saat Elf melaju lagi, saya menemukan area pemukiman warga. Itu merupakan daerah perumahan. Oh, ternyata saya mulai paham juga dari kebingungan yang telah dirasakan.
Perjalanan demi perjalanan kami lewati dengan saling berbagi cerita, istirahat sejenak, melihat gawai, bahkan menikmati suasana keriuhan jalan raya. Kami pun tak lupa untuk selfie dan dibagikan ke grub. Ya, ini juga menambah keakraban bagi kami. Sungguh, pengalaman yang langka bisa berkumpul bersama anggota SPK Tulungagung. Saya pun mengucapkan syukur kepada Allah yang telah meridhoi perjalananku. Besar harapanku untuk dapat bersua kembali dengan mereka dan berbagi cerita serta pengalaman menulis. Yang dapat meningkatkan motivasiku untuk menulis
Komentar
Posting Komentar