Penantian Lama di Tepi Jalan Raya
Penantian Lama di Tepi Jalan Raya
Oleh: Siti Rodi’ah
Hari Jumat saya melakukan perjalanan ke Tulungagung. Karena besoknya saya akan mengikuti KOPDAR di UNESA. Berbagai keperluan KOPDAR sudah saya persiapkan sejak awal. Pukul 15.00 saya mengantarkan anak les tahfidz sambil membawa tas yang berisikan keperluan KOPDAR. Ya, setelah mengantar anak, saya ngajar les dulu. Selanjutnya, melakukan perjalanan ke Tulungagung tanpa mampir di rumah. Tepat pukul 17.00 saya mulai melakukan perjalanan ke Tulungagung. Saat itu, cuaca mendukung perjalananku. Jalan pegunungan masih tampak di mata. Udara mulai terasa dingin. Lupa kakiku belum saya selimuti kaos kaki. Di tengah perjalanan, saya pun sholat di pom bensin. Saya memilih tempat yang ramai orang. Agar tidak timbul rasa khawatir di tengah kasus kejahatan yang merajalela. Dua jam perjalanan mengantarkan saya di rumah Tulungagung. Tubuh ini terasa lelah saja. Kasur dan selimut seakan melambaikan tangannya kepadaku untuk mendekatinya.
Saya lelah, tetapi mata tak bisa ku pejamkan. Saya pun ngobrol dengan ibu di kasur sembari menjelaskan kegiatan besok yang akan saya lalui bersama kawan-kawan SPK. Terlihat gawai saya bergetar. Oh, ternyata di grub KOPDAR UNESA ada pengumuman terkait sistematika pemberangkatan ke UNESA. Mas Roni memberitahukan bahwa anggota SPK yang mengikuti KOPDAR diusahakan berkumpul sebelum jam 4 di rumah mbak Zahra. Selain itu, beliau mengingatkan untuk membawa keperluan obat-obatan. Kawan-kawan pun terlihat asik saling membalas chat di grub. Dan akhirnya gawai pun saya charger di kamar. Saya pun mencoba untuk tidur. Tapi lagi-lagi tidak bisa tidur. Hingga saya harus berpindah tempat tidur. Itu pun tidak berhasil. Mencoba beralih posisi tidur hingga berkali-kali. Dan akhirnya bisa tidur sekitar pukul 23.00
Suara gawai berdering dengan kersanya. Alarm dari gawai selalu bisa diandalkan. Saya pun terbangun. Saya mencoba untuk duduk sejenak sembari melihat pesan di Whatsapp. Pukul 03.00 grub masih sepi. Saya pun mengirimkan pesan ke Mas Roni agar japri saya jika rombongan sudah berangkat. Saya sudah memberitahukan ke beliau sebelumnya bahwa saya menunggu rombongan di depan Rumah Sakit Trisna Medika. Karena faktor rumah saya yang dekat dengan Rumah Sakit tersebut, sehingga saya memutuskan memilih menunggu rombongan saja. Saya pun harus mendidihkan air. Ya, mandi di pagi buta, suhu air tak bersahabat dengan tubuhku. Sembari saya mempersiapkan keperluan yang dibawa ke UNESA. Cek ulang adalah suatu kewajiban bagiku, agar tidak ada barang yang tertinggal.
Tepat pukul 04.00 saya sudah siap untuk berangkat. Tetapi, belum ada japri dari Mas Roni. Saya pun mengirim pesan Whatsapp lagi. Kata beliau masih menunggu beberapa kawan lainnya. Beliau mengatakan kurang sebentar lagi. Di Grup pun Bu Nikmah mengirimkan pesan kalau sudah sampai di depan rumah sakit Bhayangkara. Beliau memilih menunggu disana. Saya pun berpikir untuk berangkat saja. Saya diantar oleh Bapak kesana. Suara lantunan ayat Al-Qur’an berkumandang. Ini menandakan sebentar lagi waktu subuh tiba. Bapak pun menyeberangkan saya tepat di depan Rumah Sakit Trisna Medika. Wah…kendaraan begitu sepi. Terasa jalan milik saya dan Bapak. Akhirnya saya berpamitan ke Bapak. Doa beliau adalah perisai perjalananku saat ini. Terimakasih Bapak untuk doa dan perhatian panjenengan. Adzan pun berkumandang. Saya memilih menunggu rombongan daripada sholat. Takutnya, jika rombongan sudah tiba, mereka akan lama menunggu saya.
Saya menunggu dengan membawa tas yang berukuran cukup besar. Karena ada beberapa keperluan yang harus di bawa. Saya melihat kendaraan yang berlalu lalang. Bis pun melaju dengan cepatnya dikala pagi buta. Ya, walaupun sudah terdengar adzan, tetapi langit tampak gelap. Saya pun kembali melihat gawai. Mas Roni mengirimkan pesan bahwa masih menunggu beberapa kawan. Saya pun memastikan bahwa apakah sholat subuh tetap sesuai rencana, yaitu di daerah Ngantru. Mbak Zahra pun berkomentar “Inggih”. Saya pun berdiri didepan pos jaga. Ada seorang Bapak yang bertanya. “Mbak mau kemana?” Pun menjawab pertanyaan beliau bahwa saya akan pergi ke Surabaya bersama rombongan. Bapak itu melanjutkan langkah kakinya ke dalam area Rumah Sakit Trisna Medika.
Sudah 15 menit lamanya saya menunggu di pinggir jalan raya. Ketika melihat bis, saya pun sedikit mengundurkan langkah menuju area Rumah Sakit. Takutnya, dikira saya naik bis. Setelah bis melewati Rumah Sakit, saya pun melangkahkan kaki ke depan lagi. Sembari menunggu kabar dari Mas Roni maupun perkembangan di grub. Tetapi, kondisi masih tidak berubah. Belum ada perkembangan akan pemberangkatan rombongan ke UNESA. Saya pun ragu untuk melaksanakan sholat di mushola Rumah Sakit. Karena waktu sudah jauh di luar jam pemberangkatan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pukul 04.20 Mas Thoriq mengingatkan kepada rombongan yang belum tiba untuk mempercepat perjalanan ke lokasi pemberangkatan. Sedangkan Bu Nikmah menguploud sudah sholat di RS Bayangkara. Wah, saya pun sudah mulai risau. Akhirnya, saya japri di grub kembali, apakah masih lama atau sebentar lagi. Kata Mas Roni sebentar lagi. Baiklah, saya masih setia merangkul tas dengan membawa sekantong jajan untuk camilan di kala perjalanan ke UNESA.
Akhirnya saya memutuskan untuk melaksanakan sholat pukul 04.32. Sebelumnya saya sudah mengirimkan pesan ke Mas Roni bahwa saya sholat dulu. Jika rombongan sudah tiba, saya meminta bantua ke beliau untuk menunggu saya. Namun, usai sholat, pun belum ada perkembangan pemberangkatan. Sinar mentari mulai memudarkan sebagian gelapnya langit. Saya pun masih sabar menunggu kabar. Hingga saya ditemani oleh Pak Satpam yang menikmati kopi panas dipagi yang masih dingin ini. Pertanyaan beliau masih sama dengan Bapak yang menyapa saya tadi. Tentu, jawaban yang saya sampaikan juga sama. Semakin lama, banyak orang yang berlalu lalang di kawasan Rumah Sakit. Tak sedikit mereka memandang saya yang mengenakan rok putih dengan membawa tas ukuran sedang dan tas kresek hitam di tangan kiri saya. Dan saya pun mulai sedikit kurang nyaman dengan perhatian mereka ke saya.
Pukul 05.00 Mas Roni memberikan kabar bahwa mobil sudah sampai di bis guling. Senyuman lebar ini tak ku sembunyikan. Akhirnya satu jam menunggu mulai ada perkembangan pemberangkatan. Sembari melihat gawai, Mas Roni mengirimkan pesan bahwa rombongan menuju Rumah Sakit Trisna Medika. Penantian lama ini membuahkan hasil juga. Pukul 05.10 mobil Elf berwarna hijau berhenti di depan Rumah Sakit. Saya pun melangkahkan kaki menuju Elf. Tak lupa saya berpamitan kepada Pak Satpam yang menemani kesepian saya dikala menanti sang Elf. Dengan ucapan bismillah saya masuk ke dalam Elf. Dimana di dalamnya sudah disambut oleh kawan-kawan SPK yang memiliki visi yang sama. Yaitu, belajar, belajar, dan belajar.
Komentar
Posting Komentar