KOPDAR dan Amunis Literasi

        
              KOPDAR dan Amunisi Literasi
                         Oleh: Siti Rodiah

Agenda KOPDAR SPK ke-10 ini dibarengi dengan Talkshow Literasi yang diselenggarakan oleh Jurusan PGSD UNESA. Tema Talkshow kali ini adalah Motivasi Menulis Kreatif dan Fiksi: Mengembangkan Imajinasi Literasi. Talkshow Literasi dilaksanakan di gedung O5 FIP Lantai 3. Tema ini sangat cocok bagi saya sebagai penulis pemula. Dimana, gairah menulis ini bak iman yang naik turun. Saat iman turun, mungkin tidak ada tulisan yang terupload di blog. Hingga berbulan-bulan lamanya. Menata ulang lagi spirit menulis. Muncul satu tulisan dan kembali lagi zona silent reader di grub. Tentu, tema talkshow ini, setidaknya memberikan amunisi literasi bagi saya pribadi dan kawan-kawan SPK lainnya.
Sebelum sampai di lokasi Talkshow,  saya dan kawan-kawan harus bertanya kepada Pak Satpam terkait lokasi tersebut. Saya duduk di barisan kelima dari arah depan. 

Sebelum acara inti, ada sambutan dari Bapak Tirto Adi selaku perwakilan dari Pembina SPK. Selanjutnya, prosesi MoU pun dimulai dengan penandatanganan kerjasama oleh Bu Hitta dengan FIP UNESA. Para peserta talkshow pun bertepuk tangan sebagai rasa hormat dan pemberian selamat akan hubungan kerjasama tersebut. Saya pun dari arah belakang ikut meramaikan dengan tepuk tangan. Besar harapan saya sebagai anggota SPK, bahwa kerjasama tersebut dapat memberikan sumbangsih terhadap kemajuan program-program SPK kedepannya. 

Ada sesi pemaparan laporan dari SPK pusat terkait hasil karya anggota SPK, baik pusat maupun cabang. Baegitu banyaknya karya dari anggota SPK. Seakan hati ini tergugah untuk mengikuti jejak mereka. Adapun nama Mas Roni yang terpajang di layar proyektor. Beliau adalah ketua SPK Tulungagung. Beliau memberikan tauladan kepada saya dan kawan-kawan. Sebanyak lima karya yang ditayangkan oleh tim SPK pusat. Saya dan kawan-kawan SPK Tulungagung terkagum-kagum oleh spirit literasi dari Mas Roni. Ada kawan yang mendokumentasikan buku Mas Roni yang terpajang di layar proyektor. Share grub pilihan yang tepat, agar Mas Roni bisa melihatnya langsung. Walaupun, saat itu beliau tidak bisa hadir karena ada kepentingan Lembaga yang mendesak. 

Melihat karya anggota SPK, rasanya iri dengan spirit menulis mereka. Tentu, mereka berjumpa dengan himpitan rutintas yang tak kunjung usai. Namun, mereka memiliki komitmen dan spirit yang kuat untuk menulis hingga menjadi buku. Saya hanya diam sembari berefleksi diri untuk kedepannya. Saya dan Mbak Zidna yang duduk berdekatan, saling support bahwa kami pun bisa seperti Mas Roni dan anggota SPK lainnya. Paling tidak menghasilkan sebuah buku dulu setelah acara KOPDAR ini. Kalaupun menyamai dengan Mas Roni, sungguh ini sulit rasanya. Jam terbang saya masih jauh teringgal dari beliau. Wah, padahal acara inti belum dimulai, tapi amunisi Literasi ini seakan menambah energi baru bagi saya.

Moderator pun naik ke panggung dengan gaya yang stylish. Beliau juga dosen di UNESA. Namanya adalah Zaenal Abidin yang dipanggil dengan Mr. Zae. Pemaparan materi disampaikan oleh Bapak Muchamad Khoiri atau biasa dipanggil dengan sebutan Pak Emcho. Ada tutur kata beliau yang menambah amunisi literasi ku pagi ini yaitu “Menulis harus dipaksa”. Ya, kalimat ini benar adanya. Saya pun masih fokus dengan paparan beliau, tapi fikiran pun melayang ke masa lalu. Sering kali, saya beralasan untuk tidak menulis. Padahal ada laptop, peralatan tulis, bahkan gawai sebagai media menulis pun tak dapat menarik perhatianku untuk menulis. Ya, setelah KOPDAR ini saya harus mengatur ulang lagi. Melakukan resolusi sebagai perbaikan diri. Kalaupun saat iman menurun, harus ada paksaan dalam diri.

Selanjutnya, ada Ning Khilma Anis memberikan kudapan nutrisi bergizi di waktu menjelang siang. Kebetulan, beliau datang sedikit terlambat. Tetapi, beliau memaparkan materi dengan gaya yang santai, tutur kata yang luwes, pemilihan kata yang enak untuk didengar dan dipahami. Beliau tidak menunjukkan sikap gerogi, walaupun acara sudah dimulai dan materi sudah dipaparkan sebelumnya oleh Bapak Emcho. Penyampaian beliau diperhatikan dengan seksama oleh peserta talkshow. Termasuk saya yang duduk di barisan kelima. Saya memilih menulis di buku untuk materi yang penting. Adapun kawan-kawan lainnya, lebih memilih menggunakan gawainya. Wah, saya tidak terbiasa mengetik banyak di gawai. Jadi alternatifnya adalah buku kecil sebagai catatan Talkshow.

Ning Khilma Anis memberikan petuah kepada para peserta Talkshow bahwa “sesuatu yang dikira iseng-iseng, kemungkinan berarti bagi orang lain”. Sebagaimana novel yang beliau tulis yaitu Hati Suhita. Awalnya beliau iseng membuatnya dan diuploud di Wattpad. Akhirnya banyak yang tertarik. Banyak yang memberikan komen postif dan meminta untuk diuplod bab selanjutnya. Dan pada akhirnya jadilah sebuah karya yang tak sepi dari pembaca, bahkan sudah difilmkan. Ini membuka cakrawala saya tentang menulis. Bahwa menulis itu bebas, sesuai apa yang kita minati. Mungkin catatan receh yang bagi kita itu tidak berarti, tetapi berarti bagi orang lain. 

Diakhir penyampaian Talkshow, Ning Khilma menambahkan “sedikit tapi kita sumbanngkan di jagat literasi daripada tenggelam berangan-angan dalam berbuat banyak”. Artinya, satu buku cukup untuk menyumbangkan dedikasi kita di kancah literasi daripada hanya banyak berangan tetapi tak kunjung menulis. Hal ini dikuatkan oleh penuturan dari Prof Khirnzin bahwa jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Paparan Ning Khilma dan Prof Khirzin sangat tepat. Saya sendiri merasa demikian. Mungkin juga kawan-kawan SPK lainnya. Atau khalayak di luar yang ingin menjadi penulis. Bahwa kita sering berangan-angan untuk menulis topik tertentu. Tetapi, hanya cukup pada angan-anagn saja. Tidak sampai pada tahap action yaitu menulis. Tututuran beliau-beliau memberikan pecutan bagi saya untuk bangkit dari tidur lelap ini.

Amunisi dari pemateri memang bergizi bagi kesehatan mental literasiku. Tetapi, tak cukup dari pemateri saja. Saya tercengang saat ada mahasiswi yang tunatetra mengikuti talkshow. Saya berpikir, apa motivasinya mengikuti acara ini? sontak pikiran negatifku terlempar jauh ke lautan. Walaupun dia tunanetra, tetapi sudah menghasilkan 8 buku di semester 3 ini. Sungguh wajah ini merasa tertampar saja. Ya, saya merasa malu dengan diri saya sendiri. Dia pun tak hanya menjadi peserta talkshow yang pasif, tetapi juga aktif bertanya. Pertanyaannya diarahkan pad aide-ide yang akan dibangun untuk menghasilkan karya selanjutnya. 

KOPDAR kali ini memang cocok dengan temanya dan problem kepenulisanku. Amunisi yang saya peroleh ini sedikit demi sedikit menguraikan problematika kepenulisanku. Yang mana, saya mulai menemukan benang merahnya. “Menulislah” ya, hal yang pertama ku lakukan adalah menulis apapun yang saya bisa dan kuasai. Kalau ini sudah kulakukan, mulai lagi dengan step-step selanjutnya yang saya dapatkan di KOPDAR ini. Sebenarnya, kata tersebut sering kali diturkan oleh Prof Naim, baik secara langsung di grub maupun di tulisan beliau. Tetapi, saat itu iman kepenulisanku sedang di zona merah. Semoga setelah KOPDAR ini amunisi yang saya peroleh bisa memberikan sumbangsih terhadap spirit literasiku kedepannya. Aamiin…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu