Hikmah KOPDAR: Melejitkan Spirit Menulis

   Hikmah KOPDAR: Melejitkan Spirit Menulis
                       Oleh: Siti Rodiah

KOPDAR adalah agenda rutin yang diselenggarakan oleh SPK. Yaitu setiap enam bulan sekali. Dimana, lokasi pelaksanaan tidak sama. Berpindah-pindah berdasarkan kesepakatan para pengurus SPK pusat. Agenda tersebut selalu dibarengi dengan acara seminar atau talkshow yang bertemakan literasi. Sedangkan agenda KOPDAR sendiri merupakan forum diskusi terkait perkembangan program SPK yang sudah berjalan maupun program yang masih terhambat. Sehingga, di forum ini para pengurus dan peserta KOPDAR saling bertukar gagasan demi terwujudnya program-program SPK yang telah disepakati sejak awal. Program-program SPK berorientasi terhadap kemajuan literasi bagi para anggotanya. Melalui program yang telah ditetapkan, bisa menjadi sarana anggota SPK untuk spirit menghasilkan karya berupa buku.

Saya yang masih awam menjadi anggota SPK, berusaha untuk menyempatkan diri mengikuti agenda SPK, khusunya KOPDAR. Saya masih mengikuti KOPDAR sebanyak dua kali. Padahal KOPDAR SPK sudah berlangsung hingga sepuluh kali ini di UNESA. Jadi, saya pun berusaha untuk mengikuti agenda tersebut. Tentu, pengalaman dua kali mengikuti KOPDAR sangat terasa bagi saya. Terutama dalam hal motivasi diri untuk kembali menulis. Ya, setelah mengikuti KOPDAR rasanya berbeda. Iman ini masih terjaga saja. Tetapi, seiring berjalannya waktu, iman untuk menulis kembali kendor. Dan harus disupplay energi literasi dari para senior. Seperti Prof. Naim, Bapak Emcho, serta kawan-kawan SPK yang produktif dalam mengahsilkan karya. Memang motivasi secara tertulis, berbeda motivasi secara lisan dan bersua secara langsung. KOPDAR inilah yang bisa mempertemukan antar anggota SPK dalam forum yang penuh gizi.

Hikmah yang saya rasakan setelah mengikuti KOPDAR SPK adalah meningkatnya spirit menulis. Sebelumnya, saya nyaris tidak muncul di grub SPK Tulungagung. Ketidak munculan saya, dapat dilihat dari minusnya tulisan yang saya unggah di blog dan dishare di grub SPK. Saya hanya bertindak sebagai silent reader. Sebenarnya, saya juga iri dengan kawan-kawan yang produktifitas menulisnya terjaga. Seperti Prof Naim yang memberikan tauladan kepada kawan-kawan SPK. Serta ada Mas Roni yang sangat piawai dalam menyusun kalimat yang penuh makna, Mas Woko, Mas Thoriq, dan masih banyak lagi. Sesekali saya membaca tulisan kawan-kawan di grub. Saya yang masih duduk manis, mereka sudah berlari kencang. Alkhamdulillah, dari agenda KOPDAR ini saya mulai berjalan lagi walaupun merangkak untuk menulis di blog. 

Pada agenda KOPDAR ini, saya dapat bersua dengan para pemateri talkshow dan para penasehat SPK. Seperti, Bapak Emcho yang menjadi pemateri sekaligus penasehat SPK. Beliau selalu memberikan petuah kepada anggota SPK perihal menulis. Beliau tidak hanya manis dalam bernegosiasi untuk membangkitkan spirit menulis kepada anggota SPK. Tetapi, beliau juga telah memberikan tauladan yang baik untuk dicontoh oleh para anggota. Beliau sudah menghasilkan buku sebanyak 74 buah. Ini jumlah yang tidak sedikit. Dari tauladan ini, tentu saya yang masih merangkak memulai menulis, merasa diberikan hidayah untuk spirit menulis. Beliau mengatakan bahwa menulis harus dipaksa. Metode Jigso sebagai jargonnya acapkali didengungkan.  Itu adalah paksaan tingkat tinggi bagi level saya. Menulis itu perlu dijejeg lan dipekso. Semabari beliau senantiasa menjelaskan maksudnya dengan bercanda. Karena beliau senang guyon. 

Selain Bapak Emcho, di agenda KOPDAR ini saya dapat bersua dengan Ning Khilma yang selalu memberikan motivasi kepada para peserta talkshow. Banyak hal yang saya dapatkan dari penyampaian materi dari beliau. Terutama bagaimana seorang penulis memulai untuk menulis. Yaitu dengan tekad dan semangat. Serta diimbangi dengan iqro’ yang banyak. Artinya, seorang penulis harus banyak membaca. Agar memiliki bekal banyak untuk dijadikan bahan tulisan. Beliau mengatakan bahwa “Aja mati tanpa aran”. Kalimat tersebut berarti “jangan mati tanpa sebuah nama”. Hal ini semakin memancing spirit saya untuk memulai menulis lagi. Hingga tulisan saya bisa menjadi sebuah buku. Seakan, saya ditempa untuk segera menulis dan menulis.

Saya pun mendaptkan hidayah untuk spirit menulis dari anggota SPK lainnya. Melihat karya anggota SPK yang ditampilkan pada layar projector membuat saya semakin menciut. Dan spirit saya seakan hidup lagi. Mereka bisa menghasilkan buku. Saya pun harus bisa. Mereka juga bukan seorang yang tidak sibuk. Tentu, saya yang tidak sesibuk seperti mereka, pasti juga bisa menghasilkan karya. Ya, membangkitkan spirit menulis inilah yang menjadikan energi saya untuk menulis kembali. Melalui motivasi dari kawan-kawan SPK lambat laun hati ini tergerak untuk bangkit dan mencoba merangkak menulis kembali. 

Sepulang dari KOPDAR memang berbeda rasanya dari sebelumnya. Dimana, sebelumnya saya selalu ada alasan untuk menunda menulis. Tetapi, setelah KOPDAR ini ada nurani dari diri untuk bergerak menulis kembali. Catatan-catatan yang sederhana mungkin bisa menjadi pemula dari kepenulisan saya. Yang sebelumnya saya tertidur panjang dari lelapnya kemalasan yang menerpa. Saya bersyukur akan hikmah mengikuti KOPDAR ini. Dan telah membekas dalam diri saya. Menulis itu harus dipaksa dan harus semangat untuk menyelesaikannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu