Bapak Emcho: Sang Pegiat Literasi
Bapak Emcho: Sang Pegiat Literasi
Oleh: Siti Rodiah
Kedua kali saya bertemu dengan Bapak Muhamad Khoiri atau biasa dipanggil dengan sebutan Bapak Emcho di acara KOPDAR SPK. Dimana pertama kalinya saya bertemu dengan beliau di Bondowoso. Ya, pada acara yang sama juga yaitu KOPDAR SPK ke-9. Sebelumnya, saya pernah mendengar nama beliau pada tulisan Prof Naim yang diunggah di blog. Tulisan beliau memberikan rasa penasaran yang teramat. Karena pada cerita beliau, Bapak Emcho adalah sosok pegiat literasi yang produktif menghasilkan karya. Walaupun, di tengah-tengah kesibukan serta berbagai problem kehidupan yang menerpa. Pun, saat itu saya hanya mampu membaca cerita beliau tentang Bapak Emcho. Tetapi, acara KOPDAR ini, saya dapat bersua secara langsung dan memperhatikan segala “wejangan” dari beliau. Akhirnya, rasa penasaran ini sudah terobati.
Acara KOPDAR SPK ke-10 diselenggarakan di UNESA. Bapak Emcho menjadi salah satu pemateri di acara talkshow yang bertepatan dengan KOPDAR. Saya pun sebagai peserta KOPDAR mengikuti acara talkshow. Dimana, topik talkshow saat itu adalah motivasi menulis kreatif dan fiksi. Saya yang melihat platform sebelumnya, sudah timbul rasa penasaran yang seakan tak sabar untuk meramu materi yang disampaikan oleh para pemateri. Menurut saya, topik talkshow ini memang cocok dengan sosok Bapak Emcho sendiri. Walaupun, saya hanya bersua saat di Bondowoso, tetapi beliau memberikan ingatan kuat kepada saya tentang bagaimana berproses membuat buku di bawah tekanan rutinitas sehari-hari sebagai seorang dosen. Kesan kagum sudah menyelimuti dalam benak saya. Sehingga, saya berusaha untuk mengikuti KOPDAR ke 10 ini, agar bisa bersua kembali dengan Bapak Emcho dan menggali pelajaran dari beliau.
Akhirnya, Bapak Emcho berjalan melangkahkan kaki di panggung. Yang sebelumnya, beliau duduk di kursi yang telah tersedia. Moderator memanggil beliau sembari membacakan sekelumit profil beliau. Saya tercengang ketika moderator membacakan profil bahwa Bapak Emcho sudah menghasilkan 74 buah buku. Jumlahnya sudah melebihi umur beliau. Dan beliau pun bercita-cita sebagaimana Buya Hamka yang telah menghsilkan 100 buku. Saya yang duduk di dekat Mbak Zidna hanya bisa terdiam dan memikirkan masa depan saya yang ingin menekuni dunia literasi ini. Namun, sayangnya satu buku pun belum ada. Ya, saya harus melakukan resolusi lagi. Sembari memetik hikmah dari penuturan para pemateri di acara talkshow.
Buku yang dihasilkan oleh Bapak Emcho tidak membutuhkan waktu yang terbilang lama. Beliau menuturkan bahwa 2011 memulai menulis buku hingga sekarang. Artinya hanya durasi 12 tahun beliau dapat menghasilkan 74 buku. Jika dirata-rata, maka satu tahun beliau menghasilkan 6 hingga 7 buku. Rumus matematika menemukan bahwa jangka 2 bulan, beliau sudah menyelesaikan satu buku. Sungguh, saya hanya menggeleng kepala. Tak bisa saya berkata-kata. Moderatorpun juga kagum dengan spirit literasi sosok Bapak Emcho. Bukan hanya, moderator saja, Ning Khilma Anis pun kagum dengan spirit sosok Bapak Emcho. Ya, beliau menjadi tauladan bagi para peserta Talkshow. Sungguh pas antara tema yang diusung dengan pematerinya.
Bapak Emcho menceritakan dalam suasana talkshow. Bahwa saat malam pergantian baru, beliau merancang buku yang akan ditulis. Padahal, idealnya bagi khalayak umum, malam pergantian baru adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan menghabiskan waktu di luar atau di rumah dengan makan-makan. Tetapi, tidak untuk sosok Bapak Emcho sendiri. Beliau lebih melakukan resolusi. Menata ulang project literasi dalam satu tahun kedepan. Duduk di depan layar laptop. Sejenak mengendapkan diri dari euforia malam pergantian tahun baru. Sungguh, ini sulit dilakukan oleh banyak orang. Walaupun, seorang yang menekuni bidang literasi pun. Karena project literasi yang beliau rancang tidak pernah ada putusnya. Selalu dirancang ulang dan dikerjakan. Seakan, tidak ada jeda untuk menghasilkan karya. Beliau pun menuturkan lagi, bahwa setelah merampungkan project literasinya, keluargapun diajak keluar untuk menikmati malam pergantian tahun baru. Sungguh, pemilihan sikap yang bijaksana menurut saya.
Pun saya teringat sembari duduk di kursi talkshow. Saat mengikuti KOPDAR di Bondowoso, Bapak Emcho bercerita bahwa project literasi tertata dalam beberapa folder yang sudah ditetapkan tanggal selesainya. Judul dan rancangan isi sudah tersusun dalam satu folder. Artinya, setiap hari beliau dihadapkan pada project menulis buku. Dimana, waktu penyelesaian sudah ditentukan. “Saking” ekstrimnya beliau memberikan sebuah kata menohok pada foldernya, jika tulisannya tidak selesai tepat waktu. Karena sudah bertabrakan dengan project tulisan selanjutnya. Sungguh spirit menulis beliau patut digelari sebagai Sang Pegiat Literasi. Saya menikmati kembali acara talkshow dengan menuliskan hikmah-hikmah dari para pemateri di buku catatan.
Selain aktiv di komunitas Sahabat Pena Kita (SPK), Bapak Emcho juga aktiv di komunitas Rumah Virus Literasi (RVL). Seakan beliau mendedikasikan diri dalam dunia literasi. Beliau di komunitas Rumah Virus Literasi (RVL) sebagai founder. Sedangkan di SPK, beliau berperan sebagai penasehat. Tetapi, beliau tidak memprioritaskan satu dari dua komunitas tersebut. Bagi beliau kedua komunitas tersebut adalah sama-sama pentingnya. Lalu, apakah beliau tidak punya pekerjaan selain menulis? Sungguh tidak benar. Beliau adalah seoarng dosen FBS di UNESA. Walaupun beliau mendedikasikan diri dalam dunia literasi. Tetapi, beliau tidak serta merta menjadi seorang yang tidak sibuk. Beliau sangat sibuk. Pagi hingga sore dihabiskan waktunya untuk mengajar. Sebagaimana kewajiban beliau seorang pengajar dan kepala rumah tangga. Petangnya, beliau gunakan untuk mengarang. Penuturan ini saya ingat betul saat KOPDAR di Bondowoso. Dan beliau selalu menyempatkan diri ditengah-tengah kesibukannya, untuk menghadiri kegiatan SPK maupaun RVL.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya, acara talkshow ditutup dengan doa. Para pemateri pun turun dari panggung dan menikmati lantunan suara Zelda yang merdu. Tak lupa, saya dan kawan-kawan SPK meminta foto dengan para pemateri yang super keren. Selanjutnya, acara inti pun dimulai setelah ISHOMA. Di tengah-tengah suasana diskusi, Bapak Emcho memberikan suntikan motivasi menulis. Beliau menuturkan bahwa tulisan di blog adalah bagian dari buku yang akan dibuat. Beliau pun menambahkan bahwa apa yang beliau tulis di blog adalah tulisan yang akan dijadikan sebuah buku. Hal ini mengurangi beban berat untuk menulis buku. Teknik “mencicil” sebagaimana Prof Naim tuturkan sebelumnya kepada kawan-kawan SPPK. Ini pun juga dilakukan oleh Bapak Emcho. Sungguh, Bapak Emcho sangat piawai dalam memanage waktu dan tenaga untuk menghasilkan buku.
Saya bersyukur dapat bersua secara langsung dengan Bapak Emcho. Banyak hikmah yang dapat saya petik dari beliau. Baik dari aspek spirit menulis, memanage waktu, hingga cara menulis buku dengan mencicil. Tetapi, hal utama yang harus saya tancapkan dalam diri adalah mengatur ulang untuk kembali spirit menulis. Walaupun sudah ada rancangan bahan yang akan ditulis, tetapi jika spirit menulis tidak ada, tentu rancangan akan berakhir pada rancangan saja. Belum masuk pada ranah action yang berkontribusi pada tulisan yang akan kita hasilkan.
Komentar
Posting Komentar