Semarak HUT RI ke-78 di Watulimo

     SEMARAK HUT RI KE-78 DI WATULIMO
                       Oleh: Siti Rodi’ah

          Tiga pekan yang lalu di Watulimo penuh dengan kegiatan HUT RI. Dimana kegiatan tersebut identik dengan perlombaan. Pesertanya mulai dari pelajar hingga warga sekitar. Hal ini memberikan warna tersendiri akan bulan Agustus yang merupakan HUT RI. Di tahun ini sudah mencapai usia yang ke- 78 tahun. Adapaun perlombaan yang diadakan mulai dari aspek keagamaan, akademik, olahraga hingga kebudayaan. Di depan Kecamatan Watulimo pun sudah ada baliho. Warga sekitar pun dapat mengetahui jenis-jenis perlombaan yang akan diselenggarakan oleh Kecamatan Watulimo. Tanggal, jenis perlombaan, dan tempat penyelenggaraan telah terpajang rapi pada selembar baliho yang besar. 

          Tiga pekan tersebut sekolah pun tidak efektif lagi. Karena banyak peserta didik yang mengikuti kegiatan HUT RI tersebut. Teramasuk guru pun ikut andil juga. Para pelaku UMKM pun ikut antusias dalam menyambut HUT RI ini. Tentu, dagangan mereka akan laris manis terjual. Khusunya, pelaku UMKM kuliner. Dimana ada beberapa kegiatan HUT RI ini yang menarik perhatian para warga Watulimo. Seperti lomba gerak jalan baik tingkat pelajar hingga umum, serta ada karnaval kebudayaan disemua jenjang pendidikan serta tingkat desa. Tentu, hal ini disambut dengan baik oleh para pelaku UMKM serta masyarakat Watulimo. 

         Saat perlombaan gerak jalan, terlihat di pesisir jalan banyak orang yang hendak melihat. Para penjual makanan pun berlalu lalang disepanjang jalan. Mereka yang sudah memiliki tempat penjualan yang tetap, tak luput dari kerumunan orang yang membeli makanan. Sudah tiga tahun lamanya, tidak ada agenda HUT RI. Tentu, ini adalah momen yang dirindukan oleh banyak orang, khusunya masyarakat Watulimo. Perlombaan gerak jalan ini hanya menyuguhkan para peserta melakukan gerak jalan dengan tim yang terdiri dari 20 an. Tetapi, tetap saja ini juga menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat untuk melihat. 

        Saya memperhatikan jumlah penonton untuk lomba gerak jalan tingkat pelajar tidak cukup banyak. Saya pun tidak memiliki rasa khawatir akan kehabisan tempat duduk. Tetapi, tidak demikian saat perlombaan gerak jalan umum. Sepanjang jalan padat dengan penonton. Saya ada rasa tidak nyaman saat memarkirkan sepeda motor. Disamping itu, saya pun juga harus berjubel-jubelan dengan banyak orang. Anak saya menjadi prioritas. Tentu, saya pun harus mencarikan lokasi nyaman baginya untuk duduk sembari melihat lomba tersebut. Sebelum waktu perlombaan dimulai, saya pun harus cepat-cepat membelikan anak saya aneka makanan dan minuman. Karena akan menyusahkan jika harus membeli makanan saat lomba dimulai. 

         Antusias para peserta lomba gerak jalan pun sangat diapresiasi. Ada sekitar 40 an pleton dari regu laki-laki maupun perempuan. Pesertanya mulai dari warga tiap desa yang terpilih, komunitas masyarakat, hingga dari sektor UMKM pun ikut berpartisipasi. Tata rias mereka pun juga unik. Ada yel-yel yang dipentaskan saat berjalan di sepanjang jalan. Mungkin ini salah satu daya tarik para penonton. Masyarakat pun terhibur akan lomba ini. Ketika kostum yang digunakan oleh para peserta cukup lucu, penonton pun tertawa. Gawai pun tak luput dari jari-jari yang ingin mengabadikan momen lomba tersebut. Sorak-sorak para penonton pun terdengar nyaring saat kostum dan yel-yel terdengar sedikit jenaka. Saya pun duduk di motor dengan memperhatikan anak saya yang menikmati acara tersebut yang duduk di pinggir jalan diantara kerumunan banyak orang.

         Menginjak karnaval tingkat TK, antusias penonton pun semakin bertambah saja. Selain itu, kita juga dapat melihat keramaian di sepanjang salon kecantikan. Sungguh padat akan peserta karnaval. Berbagai ornamen karnaval pun berjejer di sekitar tempat salon. Hal ini menambah rasa penasaran orang untuk melihat karnaval. Khususnya anak-anak yang antusias melihat. Dimana, start karnaval TK berada di lokasi Telkom, sedangkan finish nya di depan Kecamatan. Rute yang pas untuk usia anak TK. Saat itu, terik matahari begitu menyengat. Ya, pukul 13.00 dimulainya karnaval. Tetapi, peserta karnaval terlihat antusias. Ada juga yang sudah mengantuk, sehingga orang tuanya yang harus menggendongnya hingga garis finish. Berbagai hiasan kendaraan menambah semarak perlombaan ini. Para guru dan wali murid ikut merayakan dengan mengenakan pakaian adat. Banyak peserta yang harus memakai payung yang sudah dihiasi. Ya, saat itu cuaca sangat panas. Tetapi, tidak mengurangi kemeriahan karnaval ini. 

        Empat hari kemudian, karnaval tingkat SD, SMP dan SMA diselenggarakan. Anak saya pun mengikuti karnaval tersebut. Saya mengantarkan ke salon jam setengah 5 pagi. Karena strat perlombaan dimulai jam 10. Hal ini dikarenakan jumlah peserta yang ikut sangat banyak. sehingga, acara dimulai pagi. Saya melihat salon-salon dipadati oleh peserta karnaval. Bahkan kendaraan yang sudah dihiasi pun terpajang di sepanjang jalan. Bagi yang menjadi maskot atau dandanan yang rumit, tentu sebelum jam 4 sudah sampai di lokasi salon. Saya membayangkan bagaimana mereka mengikuti karnaval. Pasalnya, karnaval dimulai pukul 10. Sedangkan rute yang dilalui sangat jauh untuk tingkat sekolah dasar.

        Tepat pukul 10 pagi, peserta karnaval harus sampai di lapangan Tasikmadu. Ya, di lapangan itu adalah startnya. Jalan begitu sulit untuk dilalui. mobil-mobil yang telah dihiasi pun memadati lokasi start karnaval. Lapangan pun juga dipadati oleh peserta karnaval. Berbagai riasan mewarnai mata ini untuk tak bosan melihat. Berbagai pakaian adat di Indonesia hingga profesi dikenakan oleh peserta karnaval. Ada juga berbagai pernak-pernik busana maskot yang anggun serta gagah melekat pada tubuh peserta karnaval. Saat itu cuaca sangat cerah. Udara pun sudah mulai memanas. Banyak peserta yang membawa payung dengan hiasan bertema HUT RI. Iringan drum band pun mulai terdengar di barisan pertama. Ini menambah semarak akan acara HUT RI. 

         Saya dan suami mulai meninggalkan lokasi start. Karena barisan sekolah anak saya sudah bersiap untuk jalan. Kami pun sulit mencari jalan keluar. Kami harus berdesak-desakan dengan peserta karnaval, selain itu kami juga berdesak-desakan dengan para pengantar peserta karnaval. Melawan arus adalah pilihan kami. Sudah tidak ada jalan alternatif lagi. Sungguh pesertanya sangat banyak. Kami sering menghentikan kendaraan karena macet. Padahal saat itu matahari hampir tegak lurus dengan kepala kami yang tak tertutup oleh helm. Akhirnya, kami berada di penghujung barisan peserta karnaval. Jalan pun sudah mulai longgar untuk dilalui.

        Di sepanjang jalan rumah-rumah warga sekitar tasikmadu dipadati penonton. Padahal matahari hampir tegak lurus dengan kepala kita. Antusias mereka mengalahkan cuaca panas. Ada yang mengenakan topi hingga payung untuk menahan cuaca panas. Minuman dingin pun tak luput dari genggaman mereka. Bahkan ada yang rela untuk duduk beralaskan tikar dengan mengenakan payung demi melihat karnaval budaya. Ya, karnaval budaya memang bagus tuk dilihat. Berbagai riasan yang anggun dan mempesona dapat memanjakan mata ini. Selain itu, berbagai hiasan kendaraan juga tak luput dari perhatian penonton. Iringan drum band pun ikut memanjakan telinga dan mata ini tuk melihat atraksi dari mayoret. 

         Sore harinya tinggal peserta dari tingkat SMP dan SMA yang hanya berjumlah empat lembaga saja. Ya, karena ini hanya tingakt kecamatan watulimo saja. Tetapi, penonton pun tak beranjak dari tempat duduknya. Mereka masih bertahan walau dari jam 10 mereka sudah ada dilokasi itu. Berbagai ornamen ditampilkan. Ada yang membuat tumpeng raksasa, ada yang membuat pesawat raksasa, hingga berbagai kreatifitas sesuai identitas Lembaga. Karnaval tingak SMP dan SMA tergolong cukup unik. Riasan yang ditampilkan para peserta kreatif dan unik. Sesekali para penonton dibuat tertawa. Acara yang tergolong seharian ini menjadikan penjual makanan pun ikut merasakan berkah acara HUT RI ini. Dagangan mereka banyak yang habis terjual. Senyuman bahagiapun mewarnai harinya.  

       Beberapa hari kemudian dilanjutkan karnaval budaya tingkat desa. Saya yakin ini menyita perhatian masyarakat Watulimo. Terlihat di area dekat Kantor Kecamatan sudah dipadati penonton. Padahal saat itu masih jam setangah 10. Ya, jadwal yang awalnya dimulai pukul 13.00, akhirnya harus dimajukan jam 10. Karena faktor banyaknya peserta karnaval yang ikut. Saya pun mulai kesulitan untuk mencari lokasi duduk. Akhirnya memilih duduk di depan toko dengan sepeda motor dititipkan di masjid dekat toko. Banyak warga yang membawa tikar dari rumah. Atau membeli di toko tersebut atau membeli pada penjual keliling. Banyak alternatif yang kita pilih.  

        Peserta nomor urut 1 tiba di kawasan Kantor Kecamatan pukul 11.15 menit. Wah ini acara pasti selesai hingga maghrib. Peserta pertama merupakan komunitas Pencak Silat. Di sepanjang jalan mereka melakukan atraksi pada titik-titik tertentu. Ada juga barongsai ikut memeriahkan barisan tersebut. Tentu, ini juga mendatangkan sorak sorai dari penonton. Foto bersama barongsai menjadi rekreasi bagi para penonton. Anak-anak pun kegirangan dengan adanya barongsai di tengah-tengah barisan karnaval itu. Selanjutnya disusul peserta berikutnya yang berasal dari desa Sawahan. Ya, ini desa saya. Tetapi saya  tidak ikut hanya menjadi penonton saja. Hehehe…

        Karnaval budaya tingkat desa memanglah unik. Kita bisa melihat riasan yang tergolong nyleneh dari para peserta. Seperti riasan anak sekolah TK yang dikenakan oleh orang dewasa, riasan perempuan yang dikenakan oleh laki-laki, hingga riasan hantu. Ada anak kecil yang diriasi sebagai tuyul. Hal ini membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Ada juga atraksi yang menggambarkan zaman penjajahan. Seolah kita menyaksikan secara langsung bagaimana penderitaan yang dialami oleh bangsa Indonesia saat dijajah. Ini juga menjadi edukasi bagi anak-anak untuk peduli terhadap jasa-jasa pahlawan yang telah gugur. Selain itu, berbagai budaya pun ikut ditampilkan pada karnaval ini. Sehingga, anak-anak tahu akan keberagaman budaya di sekitar daerah mereka. Seperti jaranan, barongan, reog ponorogo, hingga ornamen dadak merak iku memeriahkan karnal ini. 

         Karnaval tingkat desa sangat banyak jumlah pesertanya. Satu desa saja menghabiskan waktu 45 menit hingga 1 jam. Ini menandakan masyarakat guyub rukun. Ada rasa kebersamaan dalam mengikuti karnaval ini. Ada berbagai bentuk ogoh-ogoh yang ditampilkan pada masing-masing desa. Selain itu, berbagai hiasan unik pun ikut meramaikan barisan mereka. Acara ini selasai pukul 18.00 dengan suasana yang meriah. Ya, kegiatan HUT RI ini memang meriah. Semoga tahun depan lebih meriah lagi. Dengan jumlah peserta yang bertambah lagi. HUT RI ini menjadi ajang edukasi bahkan wahana untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dari masyarakat. Karena jika tidak diikat oleh rasa persatuan dan kesatuan, tentu kegiatan HUT RI ini tak akan terwujud.  
   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu