Catatan dipenghujung Ramadhan

         Catatan Dipenghujung Ramadhan
                        Oleh: Siti Rodi’ah

Tak terasa Ramadhan sudah dipenghujung saja. Pernak-pernik kesibukan masyarakat sudah tertuju pada persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari membersihkan rumah hingga melengkapi keperluan lebaran. Selain itu, di sekeliling jalan pun sudah banyak aksesoris yang berjejer. Ada banner bertuliskan “Selamat Hari Raya Idul Fitri’, ada hiasan lampu kecil berwarna-warni, serta aksesoris lain juga berjejer di sekitar jalan. Tentu, ini merupakan bentuk ekspresi bahagia bagi umat Islam pada umumnya dalam menyambut bulan Kemenangan. Dimana, sebelumnya telah melaksanakan puasa satu bulan. Hingga akhirnya dapat bersua juga dengan bulan Kemenangan.

Ada berbagai ibadah yang sudah kita lalui di bulan Ramadhan ini. Tidak hanya berkutat pada satu ibadah saja, yaitu puasa. Tetapi, ada berbagai ibadah lain yang sudah kita lalui. Mulai dari membaca al-Qur’an, melaksanakan qiyamul lail, dzikir hingga berbagi terhadap sesama. Selain itu, selama puasa, kita lebih menjaga perilaku. Tentu, kita akan merasa takut jika puasa yang  dilakukan sia-sia karena perilaku yang tidak terpuji. Sehingga, ada sikap profetik terhadap diri sendiri selama menjalankan puasa. Kegiatan sehari-hari pun dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas positif. Tentu, bulan Ramadhan merupakan wahana bagi setiap muslim untuk meningkatkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Hingga pada akhirnya menjadi orang yang bertakwa.

Dipenghujung Ramadhan ini, sejenak marilah kita merenungkan diri. Bagaimanakah kita setelah meninggalkan bulan Ramadhan? Apakah semangat beribadah masih menggebu-gebu seperti halnya di bulan Ramadhan? Bagaimanakah dengan perilaku kita setelah menjalani puasa selama satu bulan? Apakah ada relevansi terhadap pribadi kita yang lebih baik? Memang, kita tidak tahu pengaruh puasa di bulan Ramadhan terhadap kualitas pribadi kita seperti apa. Hal ini hanya bisa dijawab oleh waktu.

Tidak mudah menyamakan kualitas dan kuantitas ibadah di luar Bulan Ramadhan. Karena banyak godaan yang menghadang. Kalaupun di bulan Ramadhan, kita mendapatkan berbagai scaffolding dari Allah bahkan orang-orang di sekitar kita. Dimana, di bulan Ramadhan Allah memberikan rahmat yang berlimpah yaitu melipat gandakan pahala untuk setiap perbuatan yang mengarah pada kebaikan. Hal ini menjadi penyemangat bagi kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam beribadah selama bulan Ramadhan. Banyak orang yang memiliki motivasi tinggi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam beribadah. Ini juga menjadi penyemangat bagi kita untuk beribadah. Sehingga, dalam menjalankan puasa hingga menambah ibadah sunah menjadi lebih semangat. Tetapi, di luar Ramadhan, tentu suasananya tidak sama. Banyak orang yang menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan. Bahkan terkadang hingga lupa akan hakekatnya sebagai makhluk maupun umat Nabi Muhammad harus seperti apa. 

Ya, waktu lah yang akan menjawab akan relevansi ibadah puasa yang sudah kita jalankan terhadap kualitas pribadi kita. Apakah akan menjadi pribadi yang masih sama, atau lebih buruk, atau lebih baik. Dipenghujung Ramadhan ini, tentu kita tidak bisa menentukan akan keberhasilan dari ibadah puasa terhadap perbaikan pribadi diri kita. Tetapi, kita perlu berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Sebagaimana kita menjaga puasa dari perbuatan negatif. Ya, ini tidak mudah dilakukan. Karena iman itu ibarat seperti mesin. Dimana, mesin tidak selamanya dapat beroperasi dengan baik. Kadang membutuhkan servis, karena adanya gangguan pada sistem operasinya. Sama halnya dengan iman seseorang. Kadang naik dan kadang turun. Saat iman turun, tentu memerlukan servis berupa rahmat Illahi. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu