Menikmati Fase Kehidupan
Menikmati Fase Kehidupan
Oleh: Siti Rodi’ah
Saat ini kesibukan saya adalah menjadi ibu rumah tangga. Pagi hari adalah aktivitas yang padat bagi seorang ibu. Mulai dari masak, mencuci peralatan dapur, mencuci baju hingga menyiapkan berbagai keperluan anak sekolah. Bagi saya ini seperti senam estafet saja. Tetapi, saya mencoba nikmati peran ini. Terlebih suami bekerja di luar kota. Tentu, saya harus mandiri dalam mengurus berbagai hal. Seperti antar jemput anak sekolah hingga berbagai keperluan lainnya. Tentu, kesibukan sebagai ibu rumah tangga mengeluarkan banyak waktu dan energi.
Lambat laun ada kejenuhan dalam diri ini untuk menjalani kehidupan di dalam rumah. Rasanya ada tekanan dalam jiwa saya. Karena yang namanya hidup berumah tangga dan bersanding dengan keluarga suami, tentu ada beberapa masalah yang terjadi. Saya pun tak ingin terkungkung di dalam rumah yang mungkin belum bisa memberikan ketengan dalam diri saya. Sedangkan suami hanya dua hari di rumah. Itu pun hanya waktu weekend saja. Saya tidak ingin banyak mengeluh kepada suami dengan berbagai masalah yang saya alami. Saya tahu bahwa beban suami sungguh berat di tempat kerjaannya. Terlebih, posisinya sekarang menjadi suppervasior. Tentu, tanggung jawab dan beban kerja begitu berat yang beliau rasakan. Ya, saya harus mencari aktivitas di luar rumah untuk mengobati kejenuhan ini.
Saya mendaptkan info ada lowongan pekerjaan di Bimbingan Belajar daerah Watulimo. Saya pun mencoba untuk memasukkan lamaran di sana. Akhirnya, dalam waktu dekat saya dipanggil juga. Sebelumnya, saya juga sudah berusaha memasukkan lamaran ke Lembaga Perguruan Tinggi. Tetapi tidak ada satu pun yang lolos. Ya, cita-cita saya adalah menjadi seorang dosen. Ya, saya jalani apa yang bisa dijalani dulu. Sembari saya berusaha menggapai mimpi saya. Saya pun mengikuti training sebelum terjun menjadi guru les. Saya mengikuti dua hari training dan selanjutnya saya diberi jadwal ngajar.
Kegiatan menjadi guru bimbingan belajar adalah sarana untuk mengisi waktu longgar dan kejenuhan di rumah. Dimana saya sebagai ibu rumah tangga, memiliki banyak waktu longgar. Setelah pekerjaan rumah selesai, tak ada hal yang saya lakukan. Kalaupun siang hari, kerepotan saya hanya sebatas menjemput anak sekolah. Sedangkan anak saya sudah makan siang di sekolah. Saya pun tidak repot dalam menyiapkan makan siang untuknya. Jadi, setelah anak pulang sekolah, saya memiliki banyak waktu longgar. Dan waktu longgar ini bisa saya gunakan aktivitas di luar rumah.
Bagi saya, menjalani fase kehidupan ini sungguh nikmat. Di waktu pagi saya tidak dikejar-kejar waktu untuk urusan pekerjaan. Saya pun dapat mengatur jam kerja di dapur. Saya dapat menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga sesuka saya. Tapi, saya pun harus tahu waktu. Kalaupun saat anak masuk sekolah, saya harus menyiapkan sarapan sebelum anak selesai mandi. Saat suami di rumah, masakan pun harus sudah siap sebelum beliau mengantarkan anak berangkat sekolah. Saya pun harus mempunyai target dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Agar tidak kacau. Walaupun dalam menyelesaikannya saya jalani dengan santai.
Waktu siang menjelang sore, yaitu sekitar pukul 14.00, saya sudah mulai melakukan aktivitas di luar rumah. Saya memberikan layanan bimingan belajar kepada anak-anak. Di Watulimo sini, kebanyakan anak-anak mengikuti les privat grub. Sehingga, saya datang ke rumah murid saya. Tentu, sebelum menjemput anak sekolah, saya meluangkan waktu untuk istirahat sebentar. Agar saya tidak terlalu lelah. Ini saya jalani dengan penuh syukur. Masih ada waktu bagi saya untuk merebahkan badan sejenak.
Saya di rumah hanya berdua dengan anak. Suami di rumah hanya hari sabtu dan minggu. Tetapi, tetap saja aktivitas di rumah juga lumayan padat. Hingga, tetangga saya mengatakan bahwa saya tidak pernah berkunjung ke tetangga. Ya, karena saya tidak sempat saja. Hehehe… bukannya bagaimana, tetapi saya harus mengisi waktu kosong untuk hal yang positif saja. Mungkin jika saya berkunjung ke tetangga, pada akhirnya akan bermuara pada perbuatan negatif seperti hibah. Nah, itu harus saya hindari sebagai wanita dan menantu di sini.
Walaupun saya hanya tinggal berdua bersama anak, tetapi rumah pun juga kelihatan kotor jika setiap hari tidak dibersihkan. Cucian baju pun akan menumpuk jika dibiarkan berhari-hari. Saya pun melihat sesuatu yang kotor, rasanya risau saja. Rasa ingin segera untuk membersihkannya saja. Sehingga, saya setiap hari membiasakan untuk mencuci baju. Agar pekerjaan rumah tangga tidak terasa berat untuk diselesaikan. Ya, kelihatannya sepele hanya tinggal berdua dengan anak. Tetapi bagi saya yang namanya manusia setiap hari melakukan berbagai aktivitas. Dan aktivitas tersebut tentu meninggalkan jejak yang bermuara pada pekerjaan rumah.
Disela-sela kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga dan guru di bimbingan belajar, saya pun mengisi waktu kosong untuk melakukan penelitian di Lembaga. Karena waktu pagi ada kelonggaran. Tidak sering saya melakukan aktivitas penelitian. Minimal satu tahun bisa saya lakukan sekali. Karena, proses penelitian begitu panjang. Penggalian data membutuhkan waktu yang lama. Ya, hal ini menjadikan saya tidak sering melakukan penelitian. Hehehe…Aktivitas penelitian saya lakukan untuk mengisi waktu dan mengasah kemampuan saya dalam menulis artikel ilmiah. Sehingga, untuk mengisi waktu pagi saya yang kosong dapat diisi dengan aktivitas menulis. Ya, itu jika pas ada waktu kosong saja. Seringkali waktu pagi saya gunakan untuk menyetrika baju. Hehehe….
Saya menikmati fase ini. Walaupun awalnya tidak mudah untuk dijalani. Tetapi, lambat laun pemikiran pun mengiringi kehidupan saya. Hal-hal baru yang belum terlintas pun, telah menggiring saya menuju jalan kedamaian. Ya, saya pun harus berdamai dengan kenyataan yang di luar ekspektasi. Aktivitas baru seperti mengajar di bimbel dan menulis artikel ilmiah telah menghipnotis saya untuk tidak terbelenggu pada ekspektasi yang telah saya bangun dari awal. Saya bercita-cita untuk menjadi pengajar di kampus. Walaupun sampai saat ini, cita-cita tersebut belum tercapai, tetapi saya sudah tidak lagi berkecil hati.
Selain itu, saya juga bisa membagi waktu untuk berkunjung ke rumah orang tua maupun mengikuti kegiatan organisasi. Ini luar biasa bagi saya. Ya, momen menjadi ibu rumah tangga akan saya nikmati. Walaupun ada beberapa orang berpikir negatif tentang saya. Karena saya sudah menyelesaikan studi magister. Tentu, banyak yang berpikiran bahwa seharusnya saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Seperti di kantor maupun di Lembaga. Tetapi, saya lebih menikmati keadaan saat ini yang tidak di tuntut oleh berbagai aturan maupun target kerja. Tetapi, saya tidak boleh terlena dengan zona nyaman ini. Karena saya memiliki cita-cita yang harus diperjuangkan. Saat ini adalah momentum untuk menambah skill. Siapa tahu saat saya sudah mencapai cita-cita, dapat saya aplikasikan.
Komentar
Posting Komentar