Hujan Turun di Pagi Hari
Hujan Turun di Pagi Hari
Satu minggu ini, daerah Watulimo diguyur hujan. Sejak sebelum subuh hingga berlanjut di malam hari. Adakalnya disaat siang hari yaitu pukul 12.30, langit tampak terang. Tetapi, sorenya langit tampak gelap kembali. Hal ini mempengaruhi suhu di tempat tinggal saya. Udara terasa dingin. Tak jarang saat saya tidur siang pun, menggunakan selimut. Hanya sebatas kaki saya yang tertutup oleh selimut.
Rutinitas seorang Ibu di pagi hari sudah tak dapat dielakkan lagi. Masing-masing memiliki porsi kerepotan berbeda-beda. Tergantung keadaan masing-masing. Bagi wanita karir, mungkin sebagian kecil memilih memperkerjakan seseorang untuk membantu kerepotannya di pagi hari. Seperti, masak, mencuci piring, mencuci baju,dan bersih-bersih rumah. Sehingga, dengan adanya seseorang yang dapat membantu kerepotannya, aka meringankan bebannya di pagi hari. Tetapi, bagi Ibu rumah tangga pun, rutinitas pagi juga mendatangkan kerepotan tersendiri. Ya, ini adalah tugas dan peran sebagai Ibu dalam suatu keluarga.
Sebagai seorang Ibu yang memiliki seorang anak, juga mengalami kerepotan di pagi hari. Saya harus memastikan anak sudah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Tentu, setiap pagi saya harus memasak. Walaupun hanya sekedar menggoreng telur saja. Tetapi, minimal sudah ada yang bisa dimakan untuk sarapan. Selain itu, memasak air untuk mandi di tungku. Ya, karena di rumah memiliki banyak kayu bakar, sayang untuk dibiarkan. Maka, saya gunakan untuk keperluan masak air. Kebetulan, rumah saya berhimpitan dengan saudara ipar. Sehingga, sekalian saya memasakkan air untuk keperluan mandi mereka. Ya, kelihatannya sepele, tetapi cukup merepotkan juga rutinitas pagi. Hehehe…
Sebelum subuh, suara dari luar terdengar berisik. Angin juga sepoi-sepoi. Ternyata hujan turun dengan derasnya. Ini pertanda hujan akan bertahan lama. Rasa malas untuk beraktifitas mulai menghantuiku. Selimut pun mulai melambaikan tangan dan menggodaku untuk tidur kembali. Ya, tidur sejenak mungkin tidak apa-apa. Pakaian kotor sudah saya cuci saat hore hari. Bahkan piring kotor pun sudah saya cuci sebelum tidur malam. Hanya masak nasi dan menggoreng lauk untuk sarapan. Mungkin ini tak terlalu merepotkanku. Ya, cuaca sedang menggodaku untuk bermalas-malasan.
Adzan subuh pun berkumandang. Saya terbangun kembali. Saya menunaikan sholat subuh. Air pun terasa sangat dingin. Seperti air es saja. Setelah wudhu, saya mengambil mukena dan sholat. Aktivitas sholat menjadikan rasa malas ini mulai hilang. Saya pun memulai rutinitas sebagai seorang ibu. Saat jalan pun, lantai terasa dingin. Tetapi, jika dibuat bergerak, tubuh pun mulai terasa hangat.
Rutinitas pagi, saya awali dengan memasak nasi di ricecooker. Ini sangat praktis. Di rumah saya hanya berdua dengan anak. Karena suami bekerja di luar kota. Hanya hari sabtu dan minggu di rumah. Sehingga, untuk keperluan masak, saya mencari yang praktis saja. Selanjutnya, saya membuka pintu dapur yang terhubung dengan tempat memasak air. Saya memasak air dengan tungku. Karena kayu bakar di rumah banyak. Tetapi, di luar hujan masih lebat juga. Percikan air pun menyentuh kulitku. Saya pun menyalakan api untuk membakar kayu. Berada di dekat tungku terasa hangat. Sambil duduk dan membenahi jika api mulai padam.
Air yang saya masak sudah hangat, saya pun melanjutkan menggoreng lauk. Sebelumnya, saya sudah mempersiapkan lauk untuk sarapan anak. Daging ayam yang saya beli di pasar, sebelumnya sudah saya masak dengan bumbu. Saya taruh di kulkas. Ini bisa tahan berhari-hari. Jika kita membutuhkan, tinggal digoreng saja. Jadi, saat menyiapkan sarapan anak, saya tak repot lagi. Ya, tinggal menggoreng saja.
Sembari menggoreng lauk, saya pun mengaduk nasi yang hampir matang. Saya tak lupa juga dengan air yang direbus di tungku. Saya juga mengecek keadaan kondisi kayu bakar. Akhirnya pukul 05.30 sudah selesai semua. Air yang saya masak pun sudah bisa digunakan untuk mandi. Tapi, hujan tak kunjung berhenti.
Saya membuatkan susu untuk anak. Dia pun meminumnya. Saya pun mengajaknya untuk mandi. Segala keperluan saya persiapkan. Seperti air hangat, handuk, dan sabun. Sembari menunggu dia selesai mandi, saya menyiapkan sarapan untuknya di meja. Seragam hari ini pun saya persiapkan juga. Akhirnya dia selesai mandi dan mengambil baju seragamnya.
Saya segera mengganti pakaian. Sembari menunggu anak sarapan, saya merapikan tempat tidur. Saya pikir hujan akan berhenti. Tetapi, harapan ini hanya sebuah angan-angan saja. Waktu pukul 06.45, saya pun mengantarkan anak berangkat ke sekolah. Lokasinya lumayan jauh. Waktu yang harus ditempuh, kurang lebih 10 menit. Kami harus menggunakan jas hujan. Agar badan kami tidak basah diguyur air hujan.
Hujan di pagi sungguh merepotkan saja. Berbagai keperluan harus dipersiapkan. Banyak barang yang harus dia bawa saat musim hujan ini, seperti sepatu, tas sekolah, sandal, dan jas hujan. Sebagian saya taruh di jok montor, seperti sepatu. Dia berangkat sekolah mengenakan sandal. Memakai jas hujan terasa merepotkan baginya. Dia harus menata baju dan kerudungnya agar tidak kena air. Makanya, saat pagi hari turun hujan, wajah musam menyelimutinya.
Saat di perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Kedua mata saya terkena tetesan air hujan. Tubuh pun mulai terasa dingin. Tak jarang kami kena guyuran air dari pengendara yang melewati kami. Guyuran itu, mengenai tubuh kami yang lapisi jas hujan. Tak apalah, yang terpenting tubuh kami aman dari percikan air. Saya pun mengendarai motor dengan cukup hati-hati. Genangan air, menutupi jalan yang berlubang. Adakalanya saya ingat betul dengan letak jalan yang berlubang tersebut. Ya, karena seringnya melewati jalan yang sama.
Sesampai di Sekolah, kami pun turun dari motor. Saya membantunya melepas jas hujan. Saya pun mengeluarkan sepatu sekolahnya dari jok motor. Bajunya yang belum rapi, saya membantu membenahi. Jas hujannya pun saya lipat kembali dan ditaruh di jok motor. Ya, merepotkan juga. Tapi, mau bagaimana lagi.
Saat memutar motor, saya berpapasan dengan wali murid lain. Keluhan dari mereka, mewakili apa yang saya keluhkan juga. Mayoritas mengatakan bahwa hujan yang turun di pagi hari sangat merepotkan bagi Ibu-Ibu. Mulai dari mempersiapkan segala keperluan hingga membawa kembali apa yang digunakan anak saat perjalanan ke sekolah. Ya, terasa ribet. Belum lagi, rasa tidak nyaman saat berkendara dikala hujan turun. Pastinya, ada sebagian tubuh yang terkena air hujan. Tentu, sebagian pakaian akan basah. Dan itu membuat kita tidak nyaman. Saya pun kembali ke rumah dengan membawa berbagai atribut anak.
Komentar
Posting Komentar