Energi Positif dari Kopdar SPK ke IX

      
       Energi Positif dari Kopdar SPK ke IX
                   Oleh: Siti Rodi’ah

Acara Kopdar SPK di tahun ini diadakan secara offline. Tentu, pengalaman yang diperoleh terasa berharga. Para anggota SPK dapat bersua secara langsung dengan antar anggota SPK lain, baik cabang maupun pusat. Dimana, selama ini hanya bisa melihat tulisan yang diuplod di grub Whatsapp. Tetapi, melalui acara ini, para anggota dapat berinteraksi secara langsung. Interaksi ini akan memberikan rasa saling kenal dan keakraban pun akan terjalin oleh anggota SPK. Ya, ini adalah salah satu hikmah mengikuti agenda Kopdar secara offline.

Sebenarnya, saat ada agenda Kopdar SPK ke-8 yang sudah dilaksanakan pada bulan Febuari, saya tertarik mengikutinya. Tetapi, keadaan belum mendukung saya untuk mengikutinya. Acara kopdar SPK ke-9 ini, saya berusaha untuk bisa ikut. Saya pun ingin mengenal secara langsung anggota SPK. Dimana, masing-masing anggota SPK memiliki kemampuan yang berbeda-beda berdasarkan disiplin ilmu pengetahuan yang dikuasai. Pengalaman hidup pun juga berbeda. Perbedaan ini yang akan memberikan warna bagi anggota lain. Masing-masing dapat mengadopsi keilmuan dan pengalaman hidup dari anggota SPK lain. Tentu, acara Kopdar inilah momen yang pas untuk saling bertukar pikiran maupun pengalaman hidup secara langsung. Hal inilah yang memberikanku tekad untuk ikut di acara Kopdar SPK.

Energi postif mulai saya temukan saat bersua dengan anggota SPKdi acara Kopdar. Salah satu anggota SPK menanyakan tentang aktivitas yang saya jalani saat ini. Saya pun mengatakan bahwa masih ngajar di bimbel dan menjadi Ibu Rumah Tangga. Beliau pun sudah tahu jika saya sudah lulus Magister. Namun beliau mengapresiasi positif kepada saya. Bahwa saya harus menjalani proses. Ya, untuk mencapai suatu tujuan harus berproses dulu. Beliau pun bercerita bahwa sebelum menjadi dosen, juga sempat ngajar di bimbel. Disini ada persamaan proses yang sedang saya jalani. Hal ini menjadi semangat baru bagi saya untuk tidak putus asa dalam menggapai mimpi dan menjalani sebuah proses.

Tanggal 6 Agustus, saya mengikuti seminar Literasi yang satu rangkaian dengan agenda Kopdar. Ada dua pemateri kali ini. salah satunya adalah Prof Naim. Selama saya mengikuti workshop beliau, yang dilaksanakan secara online, ada hal baru yang saya dapatkan. Dan kali ini secara offline. Pastinya, ini lebih bermakna lagi. Sungguh tak sabar langkah kaki ini menuju tempat yang sudah disediakan oleh pantia. Saya pun duduk di barisan pertama bersama Bu Eti, Bu Eny, dan para peserta Seminar lainnya. 

Paparan materi telah disampaikan oleh kedua pemateri. Ada hal baru yang saya dapatkan dari kedua pemateri tersebut. Bahwa menulis merupakan aktivitas menata pikiran. Semakin terasah, maka menulis menjadi suatu keterampilan reflektif bagi seseorang. Dan hidup ini penuh ketidakpastian. Dimungkinkan melalui ikhtiar menulis, suatu saat kita akan memperoleh manfaat yang tak terduga. Seperti kepentingan karir maupun berupa material lainnya. Tetapi, menulis harus diimbangi dengan kegiatan membaca. Banyak wawasan dan ide yang dapat dijadikan pijakan untuk membuat tulisan. Hal ini memberikan dampak pada logika menulis yang sangat penting dilakukan. Tulisan pun terstruktur dengan baik. Karena tanggung jawab penulis adalah apakah pembaca paham atau tidak dengan tulisan penulis?. Dari penjelasan ini, seakan memberikanku asupan energi literasi yang selama ini sudah mulai redup saja. 

Hal baru lain yang saya peroleh dari seminar literasi adalah “membunuh editor dalam diri kita”. Ya, tugas editor adalah membenahi tulisan. Jika, editor telah merasuk dalam diri, mungkin kita tak akan bisa menuntaskan tulisan. Karena, menurut kita pribadi, tulisan yang telah tersusun selalu ada kekeliruan. Sehingga, menulis satu kalimat pun tidak akan pernah tuntas. Kita akan terbayang-bayang akan takut salah. Maka, saat memulai menulis, editor dalam diri perlu dihancurkan dulu. Baru, setelah tulisan selesai, kita pun juga memerlukan adanya editor dalam diri pribadi untuk mengevaluasi tulisan kita. Strategi ini sangat baik, khususnya bagi saya sebagai penulis pemula. 

Saya yang duduk di tengah-tengah para penulis merasakan adanya energi postif dari mereka. Sebut saja Bu Eti yang sudah menghasilkan karya berupa 3 buah buku solo dan berbagai artikel jurnal. Kemudian Bu Eny salah seorang dosen UIN Tulungagung yang tidak dapat diragukan lagi akan spirit literasinya. Saya pun ditunjukkan buku beliau yang sudah dipasarkan. Dan proses menulisnya pun juga luar biasa. Sembari mengantarkan anak lomba, beliau menuliskan pengalamannya menggunakan kertas dan bolpoin di dalam kereta api. Sungguh, hati ini menciut jika berada ditengah-tengah mereka. Tetapi, pengalaman positif ini memberikan dampak bagi diri ini untuk lebih semangat lagi menulis. 

Salah satu tokoh dari SPK pusat yaitu Bapak Emcho panggilannya, duduk di barisan paling depan. Beliau adalah pegiat literasi. Karyanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Banyak buku solo yang diterbitkan oleh penerbit. Padahal aktivitas beliau begitu padat. Tetapi, karya beliau selalu bermunculan. Kapan beliau menulis? Timbul pertanyaan besar dalam diriku. Ada strategi dari beliau yaitu pagi sampai sore untuk urusan kantor, malam waktunya untuk menulis. Ya, malam hari adalah waktu bagi pengarang untuk berkarya. Ini adalah ungkapan dari beliau yang membekas dalam pikiranku hingga saat ini. 

Acara seminar pun berlangsung dengan lancar dan bermakna. Khususnya bagi peserta seminar, seperti saya. Hehehe….Tak lupa foto bersama anggota SPK lainnya dan para pemateri menjadi hal wajib bagi kami. Zaman ini adalah era nya buat status Whatsapp. Saya pun bagian dari era dan kelompok aktif buat status. Ya, mengikuti perkembangan zaman saja.

Seusai acara seminar, kegiatan Kopdar pun juga akan diagendakan setelah dzuhur. Padahal sesuai jadwal, acaranya dilangsungkan ba’da maghrib. Saya bersama anggota SPK lainnya menuju kamar yang dijadikan tempat istirahat. Ada anggota SPK yang baru saja saya kenal. Yaitu Bu Hitta dan Bu Sita. Mereka ikut bersama kami untuk menunaikan sholat dzuhur. Tetapi, kami pun tak berlama-lama di kamar, karena agenda selanjutnya adalah Kopdar. Dimana lokasinya berada di tempat lain, yaitu Pondok Darul Istiqomah. Tetapi, sebelum menuju kesana, kami dipersilahkan oleh panitia untuk makan siang di Pondok Al-Ishlah. 

Menuju ke Pondok Pesantren Darul Istiqomah, kami harus menggunakan Elf. Bu Hitta dan Bu Sita ikut bersama romobongan SPK Tulungagung. Wah, suasana pun menjadi cukup ramai dan menyenangkan. Bu Sita yang mengetahui lokasi Pondok, beliau memberikan petunjuk perjalanan kepada supir. Sangat terbantu sekali. 

Acara Kopdar pun berlangsung di Aula Pondok Darul Istiqomah. Suasana yang damai, tapi cukup melelahkan juga. Kurangnya tidur dan perjalanan yang panjang menjadi faktor akan kelelahan bagi para anggota SPK, khususnya saya pribadi. Alkhmdulillah ketua SPK baru dipilih melalui cara yang demokratis. Pak Agung adalah namanya. Ditengah-tengah diskusi tentang perkembangan SPK, Pak Emcho menyatakan siap untuk memberikan monitoring bagi kawan-kawan yang berpotensi. Karena produk dari SPK ini adalah menghasilkan buku solo. Ya, saya pun tertarik. Tetapi, tidak cukup tertarik saja, harus diimbangi dengan action. Semakin saya mengikuti acara ini, semakin mengantarkan diri ini untuk lebih spirit dalam berliterasi.

Waktu hampir pukul 17.00, sedangkan saya belum menunaikan sholat a’syar. Saya bersama kawan-kawan SPK menuju masjid putri. Setelah selesai sholat, sebagian anggota SPK bertolak ke Pondok Pesantren Al-Ishlah untuk berpamitan kepada Kiyai dan beberapa pengasuh Pondok. Saya, Bu Hitta, dan Bu Sita duduk di samping serambi masjid. Karena di masjid, banyak santri yang berkumpul untuk persiapan sholat maghrib berjamaah.

Pengalaman Bu Hitta memberikan inspirasi bagi saya. Dimana, setelah lulus S-2, beliau masih fokus dengan suami dan kedua anaknya. Saya memahami ada berbagai dilemma yang dialami oleh beliau. Kritikan negative dari orang sekitar pastilah sering didengar. Saya sendiri juga merasakan hal yang sama. Tetapi, berkat usaha Bu Hitta yang masih semangat belajar dan dukunga suami, akhirnya beliau sudah menyelesaikan studi S-3 di UNESA. Wah, luar biasa. 

Kopdar SPK menjadi pengalaman bermakna bagi saya. Spirit literasi dan nilai-nilai kehidupan telah saya dapatkan. Keduanya memberikan energi positif terhadap pola pikir saya. Energi positif inilah yang akan membawaku untuk optimis dalam menjalani proses kehidupan ini. 
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu