Dokumentasi Perjalanan ke Bondowoso
Dokumentasi Perjalanan ke Bondowoso
Oleh: Siti Rodi’ah
Hari Jumat tanggal 5 Agustus 2022, saya bersama anggota SPK lainnya melakukan perjalanan ke Bondowoso. Kami berjumlah sepuluh orang. Tiga diantaranya adalah ibu-ibu, termasuk saya. Hehehe….Dimana, ibu-ibu selalu ribet dengan barang-barang yang dibawa. Termasuk saya yang membawa tas lumayan besar. Saya memilih tas besar, karena ingin lebih praktis saja. Di dalamnya ada berbagai keperluan selama perjalanan ke Bondowoso. Seperti, pakaian ganti, sepatu, obat-obatan, snack, peralatan mandi dan dandan, serta mukena. Cukup banyak, tapi bisa muat dalam satu tas. Memang, perempuan itu jika berpergian tidak bisa untuk membawa barang-barang sedikit. Pastinya banyak keperluan yang harus dibawa.
Saat saya sedang ngobrol dengan mas Thoriq, terlihat mobil putih berhenti di depan Elf. Ternyata Bu Eny yang sudah tiba dari rumah. Beliau diantar oleh anaknya. Saya pun langsung menyapa beliau. Kelihatannya beliau tampak terburu-buru. Setelah kami ngobrol, ternyata apa yang saya perhatikan memanglah benar. Beliau mengira bahwa pemberangkatan ke Bondowoso jam 10 malam. Beliau tau saat di kampus jika pemberangkatan jam 10 pagi. Tentunya, rasa terburu-buru menyelimuti beliau saat perisapan ke kampus. Tetapi, walaupun telat, masih ada jeda untuk menghela nafas sebelum rombongan berangkat.
Akhirnya pintu mobil Elf pun dibuka juga. Sopir mempersilahkan rombongan untuk masuk. Artinya, kami akan segera berangkat. Saya dan Bu Eny masuk di mobil dulu. Kami pun duduk dalam satu baris. Satu baris ini muat diisi 3 orang. Tinggal satu penumpang lagi yang kosong dikursi sebelah kiri saya. Kursi itu akan ditempati oleh Bu Eti. Saya belum tahu beliau. Tetapi, saya hanya tahu tulisan yang diupload di grub Whatsapp saja. Hehehe…ini salah satu hikmah mengikuti Kopdar yaitu bisa berjumpa secara langsung dengan anggota SPK.
Saya dan Bu Eny ngobrol bersama sambil menunggu kawan-kawan lainnya masuk di Elf. Ternyata beliau mengalami dilema sebelum mengikuti Kopdar di Bondowoso. H-8 Kopdar SPK, suami beliau sakit. Dimana sakit suaminya cukup serius yaitu maag. Beliau cerita bahwa 2 malam suaminya muntah dan diare hingga tubuhnya lemas. Berbagai usaha dilakukan oleh beliau demi kesembuhan suaminya. Mulai dari mengajak berobat ke klinik depan rumah yaitu Klinik PG Mojopanggung serta ke dokter langganan keluarga. Akhirnya Allah telah meridhoi segala usaha. Suami beliau sudah membaik. Beliau pun meminta ijin kepada suami untuk mengikuti acara Kopdar di Bondowoso. Dan pada akhirnya, suami pun merngizinkannya. Dilema ini juga sama dengan saya. Tetapi, dalam kasus saya yang sakit adalah anak dan saya sendiri. Hehehe….
Setelah cukup lama kami mengobrol, tidak ada tanda-tanda keberangkatan. Kami pun memutuskan untuk turun dari Elf. Tas tetap kami letakkan di dalam Elf. Ternyata Prof, Naim sedang ada tamu. Sehingga, kami pun menunggu beliau. Bu Eny menyempatkan diri untuk mengurus ijin mengikuti acara Kopdar di Prodi. Saya pun akhirnya duduk di teras LP2M sambil mengoperasikan gadget. Yah, ini adalah salah hal yang kebanyakan orang lakukan disaat waktu menunggu.
Selang beberapa menit, tamu dari Prof Naim keluar dari ruangan. Ini adalah salah satu tanda bahwa kami akan segera berangkat. Tetapi, Bu Eny belum tampak juga. Mas Thoriq menelfon beliau untuk segera tiba di lokasi pemberangkatan. Beberapa menit kemudian, beliau sampai di lokasi. Karena semua rombongan sudah berkumpul, kami pun masuk ke Elf. Dengan membaca basmallah, kami pun berangkat. Tak lupa surat Al-Fatihah kami lantunkan. Semoga melalui media tersebut, Allah senantiasa memberikan keselamatan bagi kami. Saya pun mengirim pesan singkat kepada suami bahwa saya berangkat ke Bondowoso. Dan suami pun memberikan doa keselamatan kepada saya melalui pesan singkatnya di Whatsapp.
Arah pemberangkatan kami adalah Blitar. Kami berhenti di depan pasar Rejotangan. Ternyata ada dua anggota SPK yang sedang menunggu disana. Kursi disamping kiriku sudah terisi sekarang. Bu Eti namanya. Saya pun senang dapat bersua dengan beliau. Walaupun ini pertama kalinya kami bersua, tetapi beliau ramah kepada saya yang masih baru menjadi anggota SPK. Akhirnya genap sudah rombongan dari Tulungagung yang berjumlah 10 orang.
Sebelum tiba di pasar Rejotangan, saya minum obat antimo. Ini untuk jaga-jaga saja. Takutnya di tengah perjalanan saya mengalami mabuk perjalanan saja. Karena perjalanan yang saya tempuh sangat jauh. Estimasi dari beberapa anggota SPK mengatakan 8 jam perjalanan. Membayangkan saja sudah capek. Ya, dijalani dulu saja. Hehehe…. Ternyata, obat antimo memberikan efek kepada saya. Rasa kantuk ini tak bisa saya tahan. Saya pun menghentikan untuk mengobrol bersama Bu Eny maupun Bu Eti. Saya harus memejamkan mata.
Tak terasa perjalanan berhenti di depot Lumayan 3. Kami sudah sampai daerah malang. Rasanya tubuh ini harus ditegakkan. Kaki sudah terasa pegal juga. Saya pun mengambil mukena di dalam tas. Sebelum sholat, saya harus mengisi energi dulu. Ada beberapa menu yang bisa saya pilih. Jeruk hangat adalah teman yang cocok.
Beberapa menit kemudian, saya dan anggota SPK lainnya mencari tempat sholat dan kamar mandi. Tempatnya bersih, tetapi airnya keluar sedikit. Ya, tak apalah, yang penting bisa digunakan untuk istinjak dan wudhu. Saya melaksanakan sholat secara berjamaah. Seusai sholat, saya bersama Bu Eny dan Bu Eti menuju Elf. Kami pun saling ngobrol satu sama lain. Karena perjalanan masih terhenti sejenak untuk ishoma. Akhirnya sopir mulai menghidupkan mesin Elf. Kode bahwa perjalanan akan berlanjut lagi.
Tak terasa perjalanan kami telah sampai di tol. Pertama kalinya saya melewati tol. Kendaraan samping kanan melaju begitu cepatnya. Kendaraan kami yang berkecepatan sedang, memberikan ketenangan bagi penumpang. Waktu sore tiba, pemandangan disekitar tol tampak indah. Sayang untuk saya lewatkan. Karena tempat duduk saya di tengah, jadi tak bisa melakukan dokumentasi perjalanan. Hehehe….
Perjalanan ini begitu panjang. Rasanya pantat ini sudah terasa panas saja. Seringkali saya merubah posisi kaki. Kadang saya luruskan, seringkali saya tekuk juga. Disaat capek dan ingin membebaskan badan untuk bergerak, saya mencoba untuk tidur. Akhirnya perjalanan berhenti di Warung Blitar yang lokasinya setelah PLTU Paiton Probolinggo. Saya merasa lega, akhirnya bisa menggerakkan badan dari posisi duduk yang berjam-jam lamanya. Disini, kami ishoma beberapa menit.
Setelah kami mendapatkan asupan energi, dan tubuh sudah tidak terasa kaku lagi, perjalanan berlanjut. Lalu lalang kendaraan begitu padat. Saya merasa Probolinggo itu sangat luas. Berjam-jam lamanya, perjalanan ini seakan hanya berkutat pada kota Probolinggo. Bisa karena padatnya lalu lalang kendaraan, atau memang kota Probolinggo itu benar-benar luas. Saya pun mengoperasikan gadget untuk mengisi waktu perjalanan yang panjang.
Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di Arak-arak. Saya baru tahu daerah itu. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok, seperti saat saya pulang ke rumah Watulimo. Kepala saya terasa pusing juga. Saya buat tidur untuk menghilangkan rasa pusing. Akhirnya kami sampai di alun-alun Bondowoso. Saya pun harus memperhatikan secara detail arah perjalanan ini. Jika ditanya oleh suami tentang lokasi Kopdar, saya bisa menjawab. Hehehe….
Alun-alun Bondowoso tampak ramai. Ada kuda dilengkapi kereta yang dihiasi. Banyak orang-orang yang duduk di area alun-alun sembari menikmati suasana malam.
Akhirnya beberapa menit kemudian, kami sampai di lokasi tujuan yaitu Pondok Pesantren Al-Ishlah. Dari luar Pondok tersebut tampak megah. Sungguh tak sabar saya untuk masuk lokasi Pondok. Sampai di dalam Pondok, kami disambut oleh Mas Febri dan Umi Afifah. Perjalanan yang begitu panjang. Terhitung 10 jam lama perjalanan kami. Alkhamdulillah rombongan sampai di lokasi tujuan dengan selamat.
Komentar
Posting Komentar