Dilema dan Takdir Mengikuti Kopdar SPK ke IX

     Dilema dan Takdir Mengikuti Kopdar SPK
                                   ke IX
                       Oleh: Siti Rodi’ah
 
       Sejak undangan Kopdar SPK ke IX dishare oleh Prof Naim, saya pun tertarik mengikutinya. Karena ada banyak pengalaman yang pasti saya dapatkan. Saya pun membaca tanggal pelaksanaan dan susunan acara. Membayangkan saja, saya tidak sabar saja untuk mendaftarkan diri. Tetapi, lokasi Kopdar ini sangat jauh, yaitu Bondowoso. Sedangkan ,acaranya dilaksanakan hingga dua hari. Tentu, akan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk mengikuti acara tersebut. Walaupun demikian, saya yakin akan memperoleh pengalaman yang berharga.

      Setelah membaca undangan Kopdar SPK ke IX, saya pun langsung meminta izin kepada suami. Kebetulan suami sedang ada di rumah. Dengan bahasa yang santun dan penuh harapan, akhirnya suami mengizinkan. Saya pun berterimakasih kepada beliau. Saya menunjukkan surat tersebut kepada beliau melalu gadget. Dan suami membacanya sampai tuntas. Sontak suami memberikan komentar. “Lokasinya jauh ya? Kegiatannya dua hari lagi.” Wajahku seketika cemas juga. Tapi saya mencoba merayunya dan memberikan argumen bahwa acara tersebut penting bagi saya. Perlahan-lahan suami memahami kebutuhanku untuk mengikuti acara Kopdar. Akhirnya beliau memberikan keputusan yang bulat untuk membolehkan saya mengikuti acara Kopdar. 

       Saya mendaftarkan diri untuk mengikuti Kopdar melalui mas Thoriq. Saya memberikan pesan Whatsap kepadanya. Saya malu untuk mendaftrkan diri di grub Whatsap SPK. Karena saat itu, belum ada respon dari anggota lainnya. Dan pesan Whatsap pun dijawab juga oleh mas Thoriq. Ya, saya memantapkan diri untuk mengikutinya.

       Seiring berjalannya waktu, akhirnya hari mendekati kegitan Kopdar SPK di Bondowoso. Prof Naim membagikan tautan grub Kopdar Bondowoso di grub SPK. Saya pun masuk grub tersebut. Tetapi, anggotanya masih sedikit. Saya adalah satu-satunya perempuan yang ikut. Dilema pun memenuhi pikiranku. Selain itu, seminggu sebelum berangkat ke Bondowoso, saya sakit. Lambung saya kambuh. Seperti tamu yang tak diundang saja. Saya berusaha untuk mengobati sakit ini. Istirahat total pun saya lakukan. Agar saya segera sehat kembali. Ini membuat saya dilema lagi. Antara ikut atau tidak ikut. Tetapi, saya tidak ingin memutuskan sesuatu dengan tergesa-gesa. Jika Allah memberikan takdir untuk ikut, pasti keadaan akan segera membaik. 

        Alkhamdulillah hari minggu saya sudah sehat. Dilema pun mulai berkurang. 
Hari Senin, anggota grub Kopdar bertambah dua orang yaitu Bu Eny dan Bu Eti. Saya sudah mengenal Bu Eny. Beliau adalah dosen saya di IAIN Tulungagung saat S1 dan S2. Dan nantinya kami akan bersua kembali. Tetapi bukan sebagai dosen dan mahasiswa, melainkan sesama anggota grub SPK. Saya pun sangat senang akan hal ini. Artinya ada anggota SPK perempuan yang ikut. Keraguan untuk mengikuti Kopdar hilang seketika. Saya pun mulai mendata segala keperluan yang akan dibawa ke Bondowoso. 

        Ditengah-tengah keyakinanku untuk mengikuti Kopdar, anak saya sakit dihari Rabu. Badannya panas dan diare. Sungguh, ini diluar harapan saya. Dimana, harapan mendekati acara Kopdar, akan ada hal-hal baik yang menyelimuti kehidupanku. Saya pun memberikannya obat. Badannya, saya pijat dengan dilumuri minyak telon. Saya pun mengontrol konsumsi air minumnya. Harapan kesembuhan menyelimuti pikiranku. Saya pun hanya mengharapkan yang terbaik dari Allah. Rabu malam, ada rasa khawatir dalam diriku. Jika rabu malam, anak saya belum reda sakit panasnya, saya memutuskan untuk tidak ikut Kopdar. Tetapi, saya cek, badan anak saya mulai turun suhunya. Ada rasa lega dalam diri ini.
Tengah malam saya terbangun. Saya pun segera mengecek suhu tubuh anak saya. Alkhamdulillah suhunya sudah normal. 

       Setelah sholat subuh, saya masih mengontrol suhu tubuhnya. Saya bersyukur bahwa suhunya masih stabil. Anak saya pun terbangun. Dia minta diantar untuk ke belakang untuk buang air besar. Saya perhatikan, fasesnya masih lembek. Saya pun berusaha mengobatinya secara mandiri.
Setelah masak, saya membeli obat L-Bio di apotek. Obat tersebut dapat meredakan gangguan pencernaan. Saya pun  memberikan obat tersebut kepada anak. Walaupun rasanya kurang enak, saya berusaha meminumkan obat tersebut kepada anak sampai habis. Kepastian mengikuti Kopdar masih 50%. Karena anak saya belum sembuh secara total. Saya belum mempersiapkan keperluan yang harus dibawa esok hari. Alkhamdulillah sejak minum obat, anak saya tampak sehat. Dia sudah tidak sering ke belakang. Dilema pun sirna sudah. Sorenya, saya memberikan bimbingan les di beberapa rumah. Sampai di rumah pukul 20.00. Rencana setelah pulang ngelesi, saya ingin packing baju dan berbagai keperluan lainnya. Tetapi, rasa capek ini menghipnotis diri ini untuk menyegerakan istirahat. 

       Hari Jumat adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Karena hari ini, saya fix berangkat ke Bondowoso bersama kawan-kawan SPK. Hari ini anak sudah kembali ke sekolah. Sebelum subuh, saya pun disibukkan untuk membersihkan rumah, mencuci baju dan masak untuk sarapan. Saya pun belum packing-packing. Saya targetkan jam 8 pagi harus berangkat ke Tulungagung. Karena perjalanan dari Watulimo ke Tulungagung membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan  penjadwalan pemberangkatan ke Bondowoso pukul 10.00. Wah, saya harus mempercepat diri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. 

        Setelah saya mengantar anak sekolah, saya segera sarapan pagi dan packing-packing. Jauh-jauh hari saya sudah izin kepada mertua untuk mengikuti Kopdar. Sedangkan anak saya sudah saya titipkan kepada kakak ipar yang serumah dengan mertua. Akhirnya selesai sudah packing dan persiapan diri. Saya pun berangkat. Sebelum mengendarai motor, saya berpamitan kepada kedua mertua. Rumah sudah bersih dan anak sudah sehat. Senyum ini menghiasi perjalanan saya ke Tulungagung. Saya pun berhenti sejenak di Indomaret. Karena saya belum membawa jajan sebagai teman perut diperjalanan. Hehehe….

        Saya mampir sejenak ke rumah Tulungagung. Karena saya ingin diantar ke kampus dengan motor saya. Estimasi kembali di Tulungagung adalah hari Minggu sekitar tengah malam. Tentu, saya sebagai perempuan juga merasa kurang berani untuk mengendarai motor tengah malam. Selain itu, saya juga ingin berpamitan kepada Ibu. Rasanya kurang pas jika belum mendapat doa dari Ibu. Perjalanan yang saya lakukan sungguh jauh. Saya diantar oleh Bu Lek ke kampus dengan menggunakan motor. Akhirnya tibalah di kampus tercinta. Saya pun mendapatkan doa keselamatan dari Bu Lek. Lengkap sudah perjalanan ini. Doa-doa baik mengiringi perjalananku. 

        Langkah kaki ini terasa ringan. Saya segera menuju gedung stasiun. Saya sudah ditunggu oleh para anggota SPK lainnya. Saya tiba pukul 10.10, dan itu telat. Saya datang dengan nafas terengah-engah. Karena saya datang dengan telat. Mobil elf pun sudah tiba juga di depan ruang LP2M. Alkhmdulillah takdir membawa ku disini. Jika saya dan anak masih sakit, mungkin tidak bisa ikut Kopdar. 

          Dilema sebelumnya memberikan saya semakin mensyukuri akan takdir yang Allah berikan kepadaku. Tak lupa saya mengirimkan pesan singkat kepada suami bahwa saya akan berangkat ke Bondowoso. Karena suami sedang bekerja di Surabaya dan pulang ke rumah hari Jumat malam. Suami pun membalas pesan saya yang diiringi kalimat doa. Sungguh perjalanan yang luar biasa bagi saya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia dengan Menyibukkan Diri

Rindu

Rindu